Email: Password:   Lupa Password?
Sejauh Mana Perkantas Telah Menjadi Komunitas yang Radikal? Sebuah refleksi berdasarkan Markus 10:29-30
oleh Triawan Wicaksono: 29-03-2011, Dibaca: 1980kali

Untuk memahami konsep gereja dalam Injil Markus, kita akan menemui kesulitan karena Markus tidak pernah memakai istilah ekklesia (diterjemahkan dengan istilah jemaat dalam PB) seperti yang digunakan oleh Matius (16:18; 18:17) dan Lukas (Kis. 8:1; 9:31). Jabatan gerejawi juga tidak kita temukan dalam Markus, seperti dalam Matius (16:18-20) dan Lukas (Kis. 1:26; 2:42; 4:37) dalam deskripsinya tentang otoritas para rasul.

 Akan tetapi di dalam Markus kita akan menemukan istilah yang berhubungan dengan rumah tangga (household) dan keluarga, yang juga digunakan oleh para penulis kitab PB yang lain, untuk mengekspresikan pemahaman mereka tentang gereja.[1] Karena itu kita akan berfokus kepada penggunaan istilah yang berhubungan dengan rumah tangga untuk menggali pemahaman Markus tentang pemuridan sebagai kehidupan dalam komunitas. Tetapi karena keterbatasan tempat maka artikel ini hanya akan berfokus kepada teks Markus 10:29-30.

 Teks ini merupakan bagian transisi dari pelayanan Yesus di Galilea menuju penderitaan-Nya di Yerusalem (8:22-10:52). Konteks bagian ini adalah percakapakan Yesus dengan seorang kaya yang bertanya kepada Yesus bagaimana untuk memperoleh hidup kekal (10:17-31). Orang yang mau meninggalkan sesuatu, termasuk keluarganya dan mengikut Yesus, akan memperoleh semuanya itu bahkan menerima kembali seratus kali lipat. Dan bukan hanya itu, melainkan ia juga akan memperoleh hidup yang kekal.

 Menarik bila kita bandingkan dengan Matius dan Lukas, maka kita akan menemukan beberapa variasi. Yang pertama hanya Markus yang menambahkan kalimat : “akan menerima kembali seratus kali lipat : rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak, ladang, ….” Matius hanya menulis, “akan menerima kembali seratus kali lipat .…”(Mat. 19:29). Sedangkan Lukas hanya mengatakan,”akan menerima kembali lipat ganda .…”(Luk. 18:30). Ketiga penginjil mengkonfirmasi janji hidup yang kekal, tetapi hanya Markus yang menjelaskan bahwa keluarga yang telah ditinggalkan karena mengikut Kristus, akan diganti dengan keluarga baru. Pernyataan ini tidak bisa dianggap sebagai metafora belaka, karena dalam gereja mula-mula, pengertian komunitas diekspresikan dengan menggunakan bahasa yang berhubungan dengan keluarga (familial language).[2]

 Yang kedua, dalam Markus 10:29 yaitu hal-hal yang ditnggalkan karena mengikut Kristus, yaitu rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, bapa, anak, dan ladang, sama persis dengan yang akan didapatkan kembali seratus kali lipat (dalam Mrk. 10:30), kecuali ayah. Tidak ada ayah dalam keluarga/komunitas yang baru. Penjelasan yang mungkin adalah bagi Markus, satu-satunya Bapa adalah Allah itu sendiri (Mrk. 11:25; 14:36).

 Penjelasan lain yang mungkin adalah hal ini mengeskpresikan sikap anti-patriarkal, yang mengindikasikan sifat egaliter yang radikal dari komunitas dalam Injil Markus. [3] Hal ini sangat senada dengan konteks keseluruhan Injil ini dimana orang yang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya (9:35; band 10:42-45). Anak-anak yang merupakan simbol mereka yang lemah dan tidak berdaya justru diterima oleh Yesus (9:36-37; 10:13-16). Istri tidak bisa dianggap sebagai barang milik, yang dapat dibuang seenaknya oleh suaminya (10:2-11). Kekayaan yang dapat mengakibatkan pembagian kelas sosial, yang membuat orang kaya merasa memiliki otoritas di atas mereka yang miskin, justru dapat menghalangi seseorang masuk ke dalam kerajaan Allah (10:17-27). Markus juga menegaskan bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (10:45). Itu sebabnya kita dapat meyakini bahwa sifat saling melayani (mutual service) dan penolakaan terhadap kekuasaan yang mendominasi (renunciation of dominating power) adalah karakteristik utama komunitas Injil Markus.[4]

 Yang ketiga, keunikan bagian terakhir, yang tidak ada di Matius dan Lukas adalah di Markus 10:30, yaitu kalimat “… sekalipun disertai berbagai penganiayaan…” Penganiayaan ini akan dialami oleh keluarga/komunitas yang baru. Hal ini seakan-akan merelatifkan berkat yang akan diperoleh bagi mereka yang telah meninggalkan segala sesuatu karena Kristus. Di lain pihak, hal ini sejalan dengan fakta dan pengajaran Yesus tentang penganiayaan yang akan terjadi karena mengikut Dia. Misalkan, di dalam Markus 6:1-6, kita melihat fakta bahwa Yesus ditolak oleh keluarganya sendiri. Dalam Markus 13:12 Yesus mengajarkan: “Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.” Bagi Markus, kehidupan di dalam keluarga/komunitas yang baru akan melibatkan penganiayaan dari keluarga/komunitas yang lama. Yesus sendiri menegaskan bahwa mereka yang menjadi keluarganya adalah mereka yang melakukan kehendak BapaNya (Mrk. 3:31-35). Ketaatan yang radikal kepada kehendak Bapa lebih daripada apapun juga, yang mengatur kehidupan komunitas baru, pastilah akan mendatangkan penganiayaan dari komunitas lama.

 Refleksi

 Mengapa saya tetap menjadi staf Perkantas? Saya tetap memilih ada di dalam Perkantas, karena Perkantas adalah bagian dari komunitas baru yang berjuang untuk tunduk kepada kehendak Bapa lebih daripada apapun juga. Saya mengalami sifat radikal dari komunitas Markus yaitu kesetaraan/egaliter dan saling melayani di dalam Perkantas. Memang di dalam Perkantas ada struktur organisasi seperti BPR, BPC, dan BPN yang kepadanya para staf harus memberikan pertanggungjawaban. Akan tetapi struktur-struktur itu bukanlah kekuasaan yang mendominasi. Dan dalam hubungan ini, tidak ada pihak yang merasa paling berkuasa untuk menentukan apa yang terbaik bagi kemajuan pelayanan ini. Saya mengalami bagaimana proses pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan kepada pertimbangan para senior dan logika, tetapi lebih-lebih didasarkan di atas doa dan Firman.

 Pertanyaannya bagi kita semua adalah sejauh mana sifat kesetaraan, saling melayani, dan penolakkan terhadap kekuasaan yang mendominasi, makin menjadi bagian dari kehidupan Perkantas baik secara institusi maupun dalam kehidupan kita sehari-hari? Intinya sejauh mana, karakteristik komunitas Markus yang radikal itu menjadi bagian hidup yang kita perjuangkan setiap hari?

 Perkantas tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Bukankah sejarah Perkantas tidak lepas dari konflik yang berhubungan dengan kekuasaan? Itu sebabnya kita perlu terus mawas diri dan dengan segala kerendahan hati terus belajar bahwa komunitas yang terlalu menekankan kekuasaan, entah itu berhubungan dengan gelar-gelar akademis, senioritas atau bahkan kerberhasilan pelayanan, hanya akan membuat Perkantas menjadi makin jauh dari karakterisitik komunitas Markus. Bila ini terus menerus terjadi, tidak mustahil kita akan menjadi komunitas yang justru akan menganiaya mereka yang menghidupi karakterisitik komunitas baru seperti yang telah diuraikan di atas.

 Saya berharap pelayanan Perkantas semakin lama semakin besar secara geografis, semakin banyak siswa, mahasiswa, dan alumni yang bisa dilayani dan semakin banyak staf yang melayani. Saya berharap akan semakin banyak staf yang memiliki gelar S2 dan S3 di berbagai bidang. Hal ini penting demi pelaksaan misi integral yang kita harapkan dapat memberkati bangsa ini dan memajukan Injil. Saya juga berharap akan semakin banyak staf senior di luar Jawa yang berkomitmen untuk terus memperjuangkan visi Perkantas dengan terus menggumulkan misi integral dan menjadi gembala bagi para juniornya. Akan tetapi saya paling mengharapkan Perkantas menjadi makin radikal dalam arti makin egaliter, makin saling melayani dan makin jauh dari ambisi untuk saling menguasai. Karena tanpa itu semua, tiga harapan saya yang awal, meskipun terwujud, tidak akan membawa kesejahteraan bagi bangsa ini dan tidak mungkin membawa kemuliaan bagi Nama-Nya.

 

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45).

 

Oleh Triawan Wicaksono (Staf Perkantas Salatiga)



[1] Herman Hendrickx, The Household of God (Quezon City: Claretian Publications, 1992), 34.

[2] Ibid. 40.

[3] Ibid. 40.

[4] Ibid. 41.


Topik Terkait :
Mengembangkan Gaya Hidup Sederhana Dalam Pemuridan
Mengembangkan Gaya Hidup Memberi dalam Pemuridan
BERTEKUNLAH MENGASIHI TUHAN ALLAHMU
PENJANGKAUAN SISWA-MAHASISWA BARU 2011 : Antara Konsistensi dan Seni Pemuridan di Generasi Google
STAY IN THE RUNNING : Renungan HUT Perkantas Jawa Timur ke 38
0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA

243390

Saat ini ada 5 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53
cara membeli video...
   Akhung, 2011-04-26 16:29:45