Email: Password:   Lupa Password?
Student Today Leader Tomorrow
oleh Tommy lndarto, SIP: 25-04-2017, Dibaca: 210kali

Kata-Kata Manis vs Jati Diri

Perkantas memiliki suatu moto, "Student Today Leader Tomorrow". Moto ini menggambarkan cita-cita/visi yang hendak dicapai, yaitu melalui proses pemuridan di kalangan siswa/mahasiswa, kelak akan dihasilkan para pemimpin (dalam konteks luas) yang akan menjadi berkat dimanapun dia berada (sesuai visi Perkantas). Namun apapun motonya, pertanyaannya adalah; apakah moto tersebut hanya menjadi "pemanis" saja, ataukah memang moto tersebut dapat selalu memotivasi setiap orang yang terlibat untuk berusaha mewujudkannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "moto" artinya: kalimat, frasa, atau kata yang digunakan sebagai semboyan, pedoman, atau prinsip, seperti "berani karena benar". Berdasarkan pemahaman ini, cukup jelas bahwa moto bukan hanya sebuah kata-kata manis yang dipakai menjadi identitas, karena moto mengandung dua unsur penting yaitu pedoman dan prinsip.

lmplikasi moto sebagai pedoman dan prinsip adalah bahwa apapun yang dikerjakan harus mengacu pada moto tersebut dan tidak boleh bertentangan dengan moto tersebut. Ketika moto tersebut tidak lagi menjadi pedoman dan prinsip, maka sejatinya kita sedang kehilangan jati diri kita sendiri. Dalam konteks Perkantas; jika pemuridan yang dikerjakan Perkantas tidak (bertujuan) menghasilkan pemimpin, atau ketika proses pembentukan kepemimpinan ditarik keluar dari proses pemuridan maka bisa dikatakan Perkantas sudah kehilangan jati dirinya sebagai Perkantas. ltu bukan Perkantas!

 

Menilai Hasil Perjuangan yang Belum Usai

Jika memang "Student Today Leader Tomorrow" menjadi bagian cita-cita yang harus dikejar dan diwujudkan, sampai sejauh manakah kita berhasil mencapainya? Menjawab hal ini bukanlah hal yang mudah, karena tidak ada tolok ukur standar yang dapat dijadikan acuan. Namun minimal kita dapat menilai berdasarkan beberapa aspek yang terdapat dalam visi pelayanan Perkantas: "Mempersiapkan siswa dan mahasiswa menjadi alumni yang dewasa dan menjadi berkat dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara serta dunia melalui pemuridan: Pekabaran lnjil, Pembinaan, Pelipatgandaan dan Pengutusan".

Menilik visi tersebut, bagian mana yang menunjukkan proses pembentukan kepemimpinan, kualifikasi pemimpin dan dampak kepemimpinan yang diharapkan? Mari kita lihat satu-persatu. Aspek pertama kita nilai proses pembentukan kepemimpinan yang terlihat dalam pernyataan "mempersiapkan siswa dan mahasiswa melalui pemuridan: Pekabaran lnjil, Pembinaan, Pelipatgandaan dan Pengutusan". Jelas disini bahwa sasaran pelayanan kita (calon pemimpin) adalah siswa dan mahasiswa yang dibentuk menjadi pemimpin melalui proses pemuridan yang diawali dengan Penginjilan sampai dengan Pengutusan. Berdasarkan aspek pertama ini cukup jelas bahwa Perkantas telah berhasil, karena Perkantas masih setia memuridkan siswa dan mahasiswa.

Aspek kedua adalah hasil pemuridan tersebut, yaitu seorang pemimpin. Menurut saya aspek inilah yang paling luas dan paling sulit untuk dinilai. Pertanyaan utamanya, bagian mana dalam visi yang menunjuk pada pemimpin? Saya temukan minimal ada 2 indikator tentang pemimpin yang diharapkan oleh Perkantas. lndikator pertama adalah "dewasa". Kedewasaan yang dimaksud, menurut saya berpadanan dengan Efesus 4:13-15, yaitu seorang anak Tuhan yang teguh berpegang pada kebenaran dan terus bertumbuh didalam kasih ke arah Kristus sebagai Kepala. lnilah kualifikasi pemimpin yang harus dihasilkan melalui KTB-KTB. Bagian ini menekankan masalah karakter dan kerohanian seorang pemimpin yang akan mempengaruhi keseluruhan hidupnya dimanapun dia berada. Apakah perlu kita mengukur sejauh mana kematangan karakter dan kerohanian alumni yang kita bina? Tidak perlu, karena sekali lagi, tidak ada standar ukuran yang jelas, namun minimal kita bisa katakan bahwa alumni binaan kita terus mengarah ke arah itu dan kita terus berperan untuk menemani dalam pergumulan yang ada melalui kelompok-kelompok PA Alumni.

lndikator kedua yang menurut saya juga harus dimiliki seorang pemimpin adalah "menjadi berkat". Bagian ini menekankan masalah fungsi dan dampak seorang pemimpin. Mungkin bisa kita katakan sebagian besar alumni yang kita bina sudah menjadi berkat dalam keluarga. Bagaimana dengan gereja? Kita bisa melihat juga banyak alumni yang terlibat aktif dalam pelayanan dan penata-layanan di gereja lokal. Bahkan tidak sedikit alumni yang akhirnya memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan full-time di gereja atau menjadi Staf Perkantas. Jika dirasa masih ada bagian yang kurang, bisa jadi berkaitan dengan "peran nyata" alumni untuk bangsa dan negara dan dunia. Sekalipun banyak alumni yang menjadi PNS (dalam segala bidang), memang faktanya masih sedikit sekali yang memiliki posisi strategis atau memiliki posisi yang cukup tinggi untuk dapat mempengaruhi pembuatan kebijakan yang berdampak bagi masyarakat, khususnya dalam konteks Indonesia. Mungkin ini yang menjadi PR bagi Perkantas ke depan.

 

Menjadi Relevan

Zaman terus berubah, generasi terus berubah, tren terus berubah. Apakah Perkantas juga perlu berubah? Tetapkah pelayanan Perkantas relevan di zaman ini? Bisa jadi pertanyaan ini akan terus mengemuka sampai kapanpun, namun bagi saya, visi pelayanan Perkantas adalah visi untuk segala zaman dan semua generasi. Sebagai organisasi Perkantas tidak perlu berubah. Namun sebagai "organisme" Perkantas perlu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan (zaman) yang ada. Moto Student Today Leader Tomorrow akan tetap relevan. Seringkali yang ketinggalan zaman adalah pola pikir kita. Sebagai suatu "organisme" Perkantas, kita harus menyesuaikan pola pikir kita dengan perkembangan zaman, supaya kita tetap terkoneksi dengan zaman, sehingga kita dapat tetap efektif menjangkau generasi zaman ini. Bukan prinsip KTB yang diubah, namun pola pelaksanaan KTB yang perlu disesuaikan, misalkan: dulu kita KTB minimal 2 jam, sekarang dengan makin padatnya kesibukan siswa/mahasiswa, masih perlukah kita "paksakan" KTB 2 jam, dapatkah kita lakukan KTB hanya dalam 1 jam? Dulu kita KTB "menarik" AKK KTB di Rumah Persekutuan (Ruper), sekarang dengan sempitnya waktu dan tingkat "stressor" siswa/mahasiswa yang sangat tinggi, tetapkah kita paksa mereka menikmati KTB di Ruper, atau kita sendiri yang harus membuka diri untuk KTB "dimana saja," agar mereka menikmati KTB. lni hanya beberapa contoh praktis, dan saya yakin masih banyak contoh adaptasi lain yang bisa dan perlu kita lakukan supaya pemuridan jadi relevan dan menjawab kebutuhan siswa/mahasiswa zaman ini.

Akhirnya, mari kita terus berjuang memuridkan siswa/mahasiswa sampai mereka menjadi pemimpin­pemimpin Kristen yang dewasa karakter dan kerohanian sehingga hidup mereka berdampak nyata dimanapun mereka berada. Mari terus percaya bahwa ini panggilan mulia, karena tidak semua orang percaya mendapatkannya atau mau mengerjakannya. Mari terus bersandar pada kekuatan Roh Kudus yang sanggup mengubah hati siswa/mahasiswa yang kita bina. Dari ujung timur Jawa Timur

Salam "Student Today Leader Tomorrow". (*Penulis Melayani Pelayanan Siswa Banyuwangi)

 

MURID - Surat Doa Perkantas Jawa Timur, Edisi Januari-Februari 2017


Topik Terkait :
Pemuridan: Kokoh Membangun Negeri
Hai Intelektual Kristen, Dimanakah Kuasamu?
JIKA ANDA SEORANG MURID
Mencipta Budaya Melalui Pemuridan
Persekutuan Mahasiswa Kristen dan Visi Keterlibatan lnjili dalam Pergumulan Dunia
0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA
Surat Doa Banyuwangi, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 109 kali
Surat Doa Papua, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 118 kali
Surat Doa Mojokerto, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 112 kali
Surat Doa Mataram, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 105 kali
Surat Doa Jember, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 87 kali
Surat Doa Kediri, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 93 kali
Lihat Semua Berita >>


1129803

Saat ini ada 121 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53