Email: Password:   Lupa Password?
Doa dan Transformasi
oleh Vionatha Lengkong, S.S.: 08-06-2017, Dibaca: 289kali

Ester 4:1-17

 

Hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta beberapa bulan terakhir sangat mungkin menguras emosi dan keprihatinan kita. Isu agama yang dipermainkan hingga mengarah pada disintegrasi bangsa bahkan telah mencapai babak akhir: Basuki Tjahaja Purnama divonis bersalah dan dihukum selama dua tahun penjara. Keprihatinan atas ketidakadilan dinyatakan dalam aksi damai di berbagai daerah. Jutaan orang dari berbagai kalangan turun ke jalan menyalakan lilin dan berdoa dengan harapan terang kebenaran akan timbul di tengah kegelapan bangsa ini. Lalu apa yang terjadi? Sejauh ini tampaknya tidak banyak terjadi perubahan.

Doa bukanlah sebuah tindakan utopis, atau usaha menyedihkan dari orang-orang lemah (kalah). Doa adalah demonstrasi kekuatan dari sebuah pengharapan akan karya Allah. Walter Wink mengatakan, "Sejarah merupakan milik para pendoa, yang meyakini masa depan akan terjadi". Sejarah Indonesia dalam tangan Allah, Sang Pemegang Sejarah dunia. Ketika sejarah seolah sedang bergerak melawan kehendak Allah, itu bukan berarti kendali Allah atas Indonesia terlepas. Inilah saatnya umat-Nya tetap berdoa dengan tidak berkeputusan untuk menangkap maksud Tuhan bagi Indonesia.

Narasi kitab Ester mungkin dapat mewakili gambaran suram Indonesia politik dan hukum Indonesia saat ini. Gambaran "Allah yang diam" dilukiskan oleh penulis Kitab Ester, yang (dengan sengaja) "menghilangkan" nama dan pekerjaan Allah di dalam seluruh narasi Ester. Rakayasa politik Haman untuk memusnahkan bangsa Israel di tengah Kerajaan Persia (Ester 3) seolah menunjukkan hasil. Semua kesuraman itu toh tak membuat Ester dan Mordekhai kehilangan kepercayaan mereka kepada TUHAN Allah Israel. Dua hal yang bisa kita pelajari dari iman Ester dan Mordekhai: (1) kepercayaan mereka kepada Allah tak luntur, meski Allah seolah diam; dan (2) keberanian mereka mengambil risiko menyediakan diri mereka dalam peta rencana Allah melalui berdoa dan berpuasa (ay. 16). Pada titik inilah transformasi mulai terjadi, keyakinan bahwa "Allah tak pernah tertidur" (Gusti mboten sare), dan kerelaan Ester untuk mau masuk dalam risiko paling besar dari doa itu sendiri: rela mati demi kebenaran (ayat 16).

Contoh doa dan transformasi bagi bangsa juga pernah dialami Rakyat Rumania. Pemerintahan komunis yang berkuasa 42 tahun akhirnya digulingkan, dimulai dari seorang pendeta di kota Timisoara, Laszlo Tokes, yang bertahun-tahun memprotes ketidakadilan rezim komunis dibawah pemerintahan diktator Nicolae Ceausescu. Tokes yang saat itu diberhentikan dari jabatan kependetaannya dan hendak ditangkap menuai aksi ini berlanjut sebagai prates melawan komunisme. Dalam beberapa hari, prates menyebar ke ibu kota Bukares, dan pada Natal 1989, penduduk Rumania merayakan kemerdekaan dari komunisme.

Ketekunan berdoa dan kerelaan bertindak mengambil risiko dalam gerak Rencana Allah adalah kunci bagi transformasi bangsa-bangsa sepanjang zaman. Siapkah kita bertekun dalam doa, dan sekaligus menjadi jawaban bagi transformasi itu? (* Penulis melayani pelayanan administrasi di Perkantas Surabaya)

 

 


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA

1360262

Saat ini ada 2 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53