Email: Password:   Lupa Password?
DALAM NAUNGAN YANG MAHA KUASA - Catatan Perjalanan Misi Kalimantan 3 - Desa Tamong - Kalimantan Barat (Part 1)
oleh Cyntia Puspa Pitaloka: 27-01-2014, Dibaca: 1338 kali

He is no fool, who gives what he cannot keep, to gain that which he cannot lose - Jim Elliot

Jim Elliot pergi kepada suku Auca, bersama dengan 4 orang misionaris lainnya, untuk memberitakan injil kepada mereka. Pada akhirnya, mereka pun harus menghadapi maut di tangan suku yang mereka kasihi, tak ada yang tersisa. Namun tragedi ini menjadi moment penentu dalam sejarah misi penginjilan. Ratusan bahkan ribuan orang memberikan dirinya dalam perjalanan misi  memberitakan injil pada mereka yang belum terjangkau. Kami berdelapan, mungkin tak bersentuhan dengan maut seperti mereka. Namun perjalanan kali ini membawa beberapa di antara kami kepada penyerahan diri penuh: jika Tuhan ambil hidupku dalam pelayanan misi ini pun aku rela.

Pada pertengahan musim hujan, 9 Desember 2013, kami memulai perjalanan misi ketujuh ini. Seperti dua misi sebelumnya, kami berangkat dalam tim kecil yang terdiri dari 8 orang. Kak Anthon Mapandin, Kak Ivanna Muskananfola, Kak Marlia Ernawati, Bravel Sigalingging, dan Robin Chandra adalah lima orang yang pernah ikut Misi Kalimantan sebelumnya. Tiga orang yang baru bergabung dalam misi ini adalah Kristin Nita, Richard Sigalingging, dan penulis.

Tim Misi Kalimantan Perkantas ke Desa Tamong Desember 2013

Anggota Tim Misi Kalimantan Desember 2013

Dua hari perjalanan dari Surabaya sampai ke Seluas kami lalui dengan sukacita. Tiga orang Tim PKMD  (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa) utusan Yayasan Bethesda, Serukam, turut menemani perjalanan kami hari itu. Sepuluh Desember Pukul 15.00  kami tiba di Desa Bumbung setelah menempuh perjalanan air selama 3 jam dengan klotok. Di Bumbung kami disambut dengan ramah oleh anak, remaja, ibu, dan bapak dari Tamong yang sudah mendapat kabar kedatangan kami. Senangnya melihat mereka antusias merima kami.

Doa Bersama di Surabaya di Bandara Juanda

(kiri) doa bersama di Perkantas, (kanan) di Bandara Juanda

Perjalanan Sungai ke Desa Tamong Perjalanan Sungai ke Desa Tamong

Perjalanan melalui sungai

Tiba di Bumbung Tiba di Bumbung

Tiba di Bumbung (tempat awal sebelum jalan kaki 3-4 jam)

 Dari sini kami membagi tim. Kristin dan Robin sebagai pioner berjalan paling depan, disusul Kak Anthon dan penulis, lalu di belakang ada Kak Ivanna, Kak Marlia, Richard, dan Bravel. Tiga orang dari PKMD, Pak Winarno, Pak Sumarno, dan Pak Liono, masih tertinggal di Seluas karena mengurusi pupuk yang akan dibawa untuk masyarakat Tamong. Tak seorang pun di antara kami tahu bahwa pendakian dari Bumbung menuju Tamong sore itu, membawa pengalaman yang tak terlupakan.


Kemuliaan Tuhan dalam Pekerjaan Tangan-Nya

Terletak di ketinggian 500-700 meter di atas permukaan air laut, membuat pendakian kami dari Bumbung ke Tamong menjadi berat. Perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu 3 jam karena itu kami  berharap segera sampai ke Tamong BKM  (Balai Kesehatan Masyarakat) -tempat tinggal kami selama di sana-  sebelum hari gelap.

Memang benar apa yang dikatakan oleh teman-teman yang pernah ikut Misi Kalimantan terdahulu, bahwa Tamong adalah sebuah Negeri di atas awan. Memandangnya dari bawah membawa semangat untuk segera tiba. Terpeleset 2 kali karena masih belum bisa beradaptasi dengan medan tidak mengecilkan hati. Apa yang ada di sekitar jauh lebih indah daripada rasa sakit ketika jatuh itu. Selama perjalanan, teringat Daud dalam Mazmur 121

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;

Dari manakah akan datang pertolonganku?

Pertolonganku ialah dari TUHAN,

Yang menjadikan langit dan bumi.

Ia takkan membiarkan kakimu goyah,

Penjagamu tidak akan terlelap.

 

Perbukitan Tamong Perbukitan Tamong

Perbukitan Tamong

Dikelilingi bukit-bukit membuat Tamong tampak aman untuk ditinggali. Tapi sayang, tidak semua penduduk Tamong memiliki keyakinan bahwa Tuhanlah penjaga mereka. Kepercayaan terhadap arwah-arwah dan benda mati membuat mereka menuhankan alam, bukan TUHAN.

Sekitar pukul 18.00, langit sudah mulai gelap. Kami pun mulai memasang head lamp untuk menerangi jalan setapak yang kami lewati. Lampu itu tidak bisa menerangi jauh, sehingga hampir tidak berguna jika kami menerangi apa yang ada di hadapan kami. Paling mudah memang menerangi langkah kaki kami, dengan begitu kami tahu jalan apa yang kami lewati. Kembali menikmati apa yang Alkitab katakan mengenai Firman yang adalah pelita bagi kaki. Firman Tuhan menerangi setiap langkah, satu demi satu, sehingga kita tidak tersesat, sehingga kita tahu jalan apa yang kita tempuh, menuju bahaya atau tidak.

Akhirnya tim kecil kami, saya dan Kak Anthon, tiba di landasan. Di sana ada beberapa remaja dan ibu yang sedang beristirahat. Rupanya merekalah yang membantu kami membawa barang-barang dari Bumbung tadi. Mereka pun mengajak kami turut istirahat sambil menikmati dehei - begitu mereka sebut durian. Nikmat sekali. Lalu penulis melihat langit, tampak bintang-bintang dan bulan bersinar cukup terang meskipun langit berawan. Penulis pun sadar kemudian bahwa anak-anak ini tidak ada yang memakai head lamp! Penulis lalu mematikan headlamp-nya juga. Dan memang sungguh terang! Penulis bisa melihat sekeliling dan jalanan tanpa lampu. Melihat penulis takjub, seorang remaja Tamong berkata, "Iya, Kak! Tidak perlu lampu. Cukup terang bulan itu, lampu ciptaan Tuhan". Mungkin, hanya mereka yang tinggal di daerah tanpa listrik seperti Tamong yang benar-benar dapat menyelami ketika Firman Tuhan berkata "beginilah Firman TUHAN, yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam..." Terpujilan Allah kita!

Sebentar saja kami melanjutkan perjalanan, dan tampak BKM dari kejauhan. Tak sabar bertemu dengan Robin dan Kristin yang berjalan di depan!

 

Saat-saat Gelap

Tiba di BKM dan melihat Robin sendiri saja. Saat itu pukul 18.45 dan Robin tiba satu jam sebelum kami. Ternyata Kristin dan Robin terpisah sejak dari bawah. Kristin dibonceng naik motor bersama seorang pemuda Tamong melewati jalur yang berbeda. Jika dia naik motor, seharusnya sudah sampai terlebih dahulu. Tapi saat ini dia tidak ada. Dan ini adalah perjalanan pertamanya, bagaimana dia akan tahu jalan? Kekhawatiran pun dimulai di sini.

Kami bertiga bertanya kepada penduduk Tamong, apakah mereka melihat seseorang dengan ciri-ciri yang kami sebutkan. Sangat bersyukur ketika kami mendengar bahwa ada salah seorang warga yang melihatnya di rumah Pak Inus. Tak lama, dia pun tiba di BKM dengan diantar Bu Sonya.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 20.00 tetapi rombongan terakhir belum datang. Bahkan setelah 3 rekan PKMD tiba, keempat teman di belakang belum muncul juga. Lalu kami mendapat kabar dari Surabaya bahwa teman-teman tersesat. Dalam kecemasan kami berdoa, memohan perlindungan Tuhan kepada mereka. Kemudian, tiba SMS dari Kak Ivanna yang mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja, dan sedang dipimpin Tuhan untuk melewati jalan lain dan memberitakan Injil kepada siapa saja yang ditemui. Mereka minta supaya kami berdoa. Dan memang hanya meminta kepada Sang Empunya Hidup saja yang bisa kami lakukan saat itu. Berdoa bergantian, kami mintakan kekuatan untuk mereka.

Beritakanlah Firman, Siap Sedialah

Pukul 22.00 lewat mereka baru tiba. Kak Ivanna, Kak Marlia, dan Sigalingging bersaudara. Melihat mereka kembali dengan utuh adalah sukacita yang sangat besar. Setelah membersihkan diri dan cukup tenang, mereka menceritakan apa yang terjadi.

Dalam perjalanan dari Bumbung ke Tamong, ada sebuah jalur yang bercabang dua: kiri dan kanan. Jalur kiri adalah jalur yang biasa kami lalui pada misi sebelumnya. Namun karena sudah jarang dilewati oleh penduduk, jalan itu tertutup oleh rumput-rumput tinggi. Jalur kanan adalah jalur baru. Ketika harus memilih, entah kenapa waktu itu mereka memutuskan mengambil jalur kanan. Jalan itu begitu sempit, kanan-kiri jurang sehingga hanya mampu dilalui oleh satuorang saja. Jalan itu menanjak dan terjal, ditambah musim hujan yang membuat jalanan licin,  menyebabkan medan yang dilalui semakin sulit. Setelah berjalan sekitar satu jam di jalan itu, mereka pun menyadari bahwa mereka tersesat dan telah mengambil jalur yang salah. Langit sudah gelap.

Ketika itu, Richard sudah berbalik dan siap untuk kembali ke jalan yang seharusnya. Namun dicegah oleh teman-teman lain. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan melalui jalur itu. Sepanjang jalan, mereka berdoa  bergantian dan memuji Tuhan. Ada sedikit perasaan takut karena tidak mengetahui akhir jalan itu. Namun mereka terus mengandalkan pimpinan Tuhan. Dan ketika itu juga, Kak Ivanna memiliki keyakinan bahwa harus memberitakan Injil. Bukan kebetulan mereka melewati jalur lain, jadi siapa saja yang ditemui sepanjang jalan itu, Injil harus disampaikan kepadanya!

Kak Ivanna akhirnya tersadar, bahwa dia pernah melewati jalan itu sebelumnya. Mereka sedang  melewati Basung, jalan baru yang sering dipakai oleh warga Tamong. Jalur ini menuju ke Tamong Besar, sehingga jika yang dituju adalah Tamong BKM, jalur ini lebih jauh karena memutar.

Di pertigaan antara Tamong Besar dan Tamong Buluh, berdiri seorang bapak. Tampaknya orang itu baru saja dari Pongo, begitu dugaan mereka. Nama Bapak itu Pak Ating, atau Asim nama kecilnya, dia tinggal di Tamong Buluh. Mengetahui bahwa teman-teman tersesat, Pak Ating berbaik hati mau mengantar mereka untuk bisa menemukan jalan ke BKM. Rupanya itu adalah pertemuan dalam anugerah Allah. Sepanjang jalan, Bravel bercerita tentang Kristus sementara yang lain berjaga-jaga dalam doa. Ketika ditantang untuk menerima Kristus, Pak Ating bersedia.

Mereka lalu singgah sebentar di rumah Pak Ating. Di sana mereka berjumpa dengan isterinya, yang dari sikapnya, tidak suka dengan kedatangan mereka. Sementara mereka di sana, bambu-bambu di luar terdengar amat berisik. Begitu juga dengan semak-semak, seperti ada sesuatu yang lewat di tengah-tengahnya. Suasana cukup mencekam. Mereka lalu berpamitan dengan janji, bahwa akan berkunjung ke Pak Ating lagi esok hari.

Dibandingkan misi sebelumnya, mungkin perjalanan pendakian kali ini yang paling berkesan. Ini adalah sambutan di malam pertama yang tak biasa. Dalam hati kami bertanya-tanya, apa yang akan menanti esok hari dan seterusnya.

(Bersambung)

PERJALANAN TIM MISI KALIMANTAN  SEBELUMNYA :

Misi Kalimantan 1 - 2009                             : DI SINI JUSTRU INDONESIA 

Misi Kalimantan 2 - 2010                             : START THE MISSION!! 

Misi Kalimantan 3 - 2011                             :  HARAPAN ITU NYATA!

Misi Kalimantan 4 - 2012                             :  KASIH BAGI WARGA DI NEGERI DI ATAS AWAN!

Misi Kalimantan 5 - Januari 2013              :  MENGALAMI PIMPINAN TUHAN YANG NYATA  

Misi Kalimantan 7 - Desember 2013         :  DALAM NAUNGAN YANG MAHA KUASA

Misi Kalimantan 8 - Juni-Juli 2014            SEBAB TUHAN, ALLAHMU MENYERTAI ENGKAU,
                                                                             KEMANAPUN ENGKAU PERGI

 


 


Topik Terkait :
Sebab Tuhan, Allahmu Menyertai engkau, Kemanapun engkau Pergi - Catatan Perjalanan Misi Kalimantan 8 – Desa Tamong – Kalimantan Barat, 24 Juni - 5 Juli 2014
Traveling ke Papua oleh staf Perkantas Jatim, 31 Januari – 10 Februari 2013
PENYULUHAN PERTANIAN BAGI WARGA TAMONG - Jurnal Pelayanan Misi Kalimantan 4 ke Desa Tamong - Kalimantan Barat, 24 Juni - 3 Juli 2012
PELAYANAN BAGI MAJELIS DAN PENGURUS GEREJA - Jurnal Pelayanan Misi Kalimantan 4 ke Desa Tamong - Kalimantan Barat, 24 Juni - 3 Juli 2012
MASUK KE HIDUP MEREKA DAN BERDOA - Jurnal Pelayanan Tim Visitasi - Misi Kalimantan 4, 24 Juni – 3 Juli 2012
0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

LENGKAPI DATA ANDA

Gathering Misi Kalimantan 20...
Gathering Misi Kalimantan, 17 April 2016, Pkl. 17.00 WIB, Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10 Surabaya, Pembicara Harry Limanto, M.Div....
Sharing Misi “Bersaksi di te...
Sharing Misi “Bersaksi di tengah Kesibukan”, oleh Johan Kusmanto, 25 Juni 2015, Pukul 17.30-21.00 WIB di Perkantas Surabaya, Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10 ...
Misi Kalimantan 2, Desa Tamo...
Sepanjang perjalanan sejarah misi Kristen gerakan mahasiswa berperan sangat besar. Mahasiswa merupakan sumber daya manusia yang sangat potensial karena mereka memiliki kemampuan intelektual dan semang...
MISI KALIMANTAN 1 : Serukam...
Aku ini TUHAN, telah memanggil Engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu. Aku akan membuat Engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung...
Lihat Semua Kegiatan >>


1054997

Saat ini ada 46 tamu dan 0 online user