Email: Password:   Lupa Password?
Kasih yang berbagi - Sebuah Refleksi dari Pengobatan Gratis Perkantas 2010
oleh Hestin Klaas: 09-06-2010, Dibaca: 1598 kali

“Ya zaman sekarang ni ya, banyak orang yang mikir… makanya banyak peluang penyakit ya… Kalo saya sendiri sakitnya ada sakit gula sama ginjal juga… ya karena apa-apa juga mahal saya juga suka nyari pengobatan alternatif yang gratisan itu…”

Itu merupakan sepenggal kalimat yang terucap lirih dari seorang ibu paruh baya berusia  50 tahun bernama Umi. Percakapan itu terjadi antara saya dan beliau di suatu siang yang cukup terik pada tanggal 28 Mei 2010 yang lalu. Ada apa hari itu? Ya, bertempat di perkantas saat itu sedang di adakan kegiatan pengobatan gratis yang merupakan pelayanan sinergis antara Persekutuan Mahasiswa Kristen Kota Surabaya, Tim Pembimbing Siswa Surabaya, alumni, mahasiswa kedokteran UWKS dan Farmasi UBAYA serta beberapa dokter serta dokter muda yang juga terbeban membantu acara tersebut. Pengobatan gratis ini ditujukan kepada warga kurang mampu di daerah tenggilis dan sekitarnya.

Kembali tentang percakapan di atas, ternyata bukan cuma satu percakapan itu saja yang cukup membuat dahi saya berkenyit dan merenungkan banyak hal. Ada satu lagi percakapan yang cukup menarik antara saya dengan seorang ibu lain yang sedang duduk di kursi tunggu pasien. Ia bernama Ibu Yatemin dan umurnya tak jauh berbeda dari ibu Umi.

 “Ibu sakit apa bu?” tanya saya sambil mengulas senyum hangat padanya

“Darah tinggi mbak… dari anak mbak…” jawab ibu tersebut secara spontan

“Maksudnya dari anak bu?” saya kembali bertanya dengan ekspresi sedikit kebingungan dan penasaran

“Karena anak dan mantu saya ndak akur sama saya mbak, makanya saya mikir terus mbak. Saya juga sudah ga tinggal lagi sama anak saya udah kos sendiri…. Anak saya cuma satu itu, suami saya sudah meninggal…”  jawabnya kembali dan terdengar sangat lirih tanpa berani menatap mata saya melainkan tertunduk menatap tanah.

Saya tertegun beberapa saat. Sesungguhnya bingung melanjutkan kata-kata. Sambil terus berdoa dalam hati, akhirnya saya memberanikan menawarkan untuk mendoakan beliau. Setelah beliau menyetujui akhirnya kami sama-sama berdoa di tengah kesibukan pengobatan gratis hari itu. Samar-samar dalam doa saya beliau juga menanggapi perlahan berkata amin…

Sejujurnya niat awal saya hanya ingin mengajak ngobrol ibu-ibu yang sedang terduduk sendiri di kursi tunggu pasien. Hanya ingin sedikit memberi salam dan bertanya tentang apa yang dirasakan mereka hari itu. Tapi sungguh di luar dugaan saya, begitu cepat dan dalamnya perbincangan itu dapat dibangun. Satu pertanyaan yang kemudian terlintas di benak saya, mengapa ibu-ibu tersebut dapat dengan ringannya menceritakan pergumulan mereka. Sama sekali tak terlintas ekspresi meminta iba atas nasib mereka. Sama sekali tak terlintas itu seperti masalah pribadi yang harus ditutup rapat-rapat. Tidak. Apakah karena sudah terlalu terbiasa mereka merasakan perih dan masalah demi masalah setiap harinya. Sehingga untuk menceritakan masalah dibalik penyakit yang mereka derita di siang itu bukanlah sebuah masalah besar. Entahlah, pertanyaan tersebut tak mampu ku jawab secara tuntas. Aku menjawab dalam hati untuk meredam luapan tanda tanya tersebut, yah… mungkin karena aku bukan seorang psikolog sehingga ya wajar saja tak mampu menganalisa terlalu dalam. Walaupun demikian ternyata pertanyaan lain kembali bermunculan, Kenapa ini bisa terjadi? Apakah wajar jika kemudian itu menjadi sebuah hal biasa di tengah masyarakat kita saat ini? Sebuah rahasia umum kah? lalu apa yang harus dilakukan? Dan seterusnya …..

Hal yang serupa juga kembali ku perbincangkan bersama dengan dr. Ivana Sajogo yang merupakan salah satu dokter yang bertugas saat itu. Beliau beberapa kali bertemu dengan pasien yang juga mengeluhkan permasalahan internal yang akhirnya membawa dampak negatif bagi kesehatan fisik. Beberapa pasien langsung di konseling oleh dr. Ivana saat itu juga. Namun karena keterbatasan waktu dan tempat hal seperti ini tidak memungkinkan dilakukan bagi semua pasien. Sehingga beliau juga berpendapat agar dapat membuat bilik konseling juga untuk pengobatan gratis berikutnya.

Aku kemudian menyadari ada sebuah masalah yang sejujurnya lebih jauh mendalam dalam setiap kedalaman hati manusia, masalah yang harus dipulihkan terlebih dahulu. Masalah yang sejujurnya menajdi mayoritas penyebab penyakit fisik kebanyakan orang saat ini. Darah tinggi, kanker, tumor, stress, dan lainnya..

 

Kasih yang berbagi

Margaretha Danisia, seorang mahasiswi kedokteran tingkat akhir yang menjadi koordinator 15 orang mahasiswa Medis –UWKS yang terlibat hari itu menyatakan sukacita nya atas keberlangsungan acara ini. Mereka ramai-ramai datang membawa perlengkapan kedokteran milik mereka sendiri seperti stetoskop dan tensi meter, serta dengan penuh antusias membantu proses analisa awal seperti tensi tekanan darah serta mencatat gejala-gejala yang dirasakan. Mereka memang belum resmi menjadi seorang dokter, tapi dengan semangat dan ilmu yang mereka punya, mereka sangat antusias menjalankan tugas mereka hari itu. Menyapa setiap pasien dengan senyum dan mulai memeriksa gejala-gejala awal pasien. Bahkan seorang mahasiswa yang baru semester dua, Rendy, merasa sangat senang bisa terlibat membantu. Ketika ditanya alasan keterlibatannya, dengan sangat antusias Rendy berkata bahwa ia mendaftar sendiri dan tanpa disuruh. Walaupun masih semester dua, dia sudah merasa mampu untuk menjalankan tugasnya hari itu karena telah dia pelajari di bangku kuliahnya. Ini menjadi sebuah pengalaman baru baginya. Rendy juga memiliki kerinduan agar setelah menjadi dokter nanti ia  tetap bisa membantu warga yang kurang mampu seperti pengalaman pelayanan hari itu.

Percakapan singkat saya hari itu, membuat hati saya berbisik menaikkan syukur pada Tuhan karena melihat para mahasiswa kedokteran yang masih sangat muda tersebut. Melihat kerinduan mereka untuk terus berbagi kasih dengan orang yang ada disekitar mereka. Suatu komitmen yang sungguh indah. Bukan hanya mahasiswa yang terlihat sangat bersemangat, dokter dan dokter muda yang terlibat hari itu pun memiliki semangat yang sama. Isanna Muskananfola, koordinator kegiatan dari PMK Kota hari itu juga menuturkan rasa syukurnya pada Tuhan atas penyertaanNya dalam kegiatan tahunan yang luar biasa ini. Isanna menyatakan bahwa sebenarnya dokter yang di undang untuk terlibat awalnya hanya empat orang, tapi ternyata yang hadir mencapai tujuh orang.  Diantaranya dr. Ivana sajogo, dr. Satti Raja Sitanggang, dr. Anggi L, dr. Ferdi Roland, Yosefin Ameniah Samosir, S.Ked., Ruth Indah Kurniawati,S.Ked., Nunin Sukmanta Susanto,S.Ked. Hari itu mereka bertugas di dalam lima bilik yang di atur sangat sederhana oleh panitia. Namun itu tidak menyurutkan semangat mereka. Tak lupa juga keterlibatan 11 orang mahasiswa Farmasi – UBAYA yang membantu memberikan dan membagikan obat sesuai resep yang dokter berikan.  Rata-rata mereka adalah mahasiswa yang terlibat merupakan mereka yang terbina dalam kelompok tumbuh bersama atau KTB.

Total pasien yang hari itu datang adalah 179 orang, mereka sudah mulai berdatangan sejak pk. 08.00 sampai sekitar pk.12.00. Menurut dr. Ivana Sajogo, pasien yang datang pada pengobatan gratis kali ini rata-rata baru dan berbeda dengan pasien pada pengobatan gratis yang pertama tahun lalu. Dengan pasien rata-rata berusia sekitar 30-40 tahun dan juga banyak anak-anak. Mereka memang adalah warga miskin yang bermukim di sekitar tenggilis mejoyo. Mereka terlihat sangat gembira meresponi kegiatan ini. Ini terbukti kertika akan meninggalkan area pengobatan gratis, mereka selalu membalas sapaan panitia dengan senyuman yang lebar dan ucapan terimakasih yang mendalam.

Semoga senyuman yang terulas itu merupakan suat tanda mereka merasakan oase di tengah gurun kehidupan mereka. Sebuah senyuman yang menandakan rasa syukur mereka atas perasaan masih dipedulikan. Semoga senyuman itu juga menjadi sebuah peringatan bagi kita semua akan KASIH Nya yang besar bagi kita, dan harus terus dibagikan. Ketika kita diberkati dan juga mau selalu menjadi berkat. Semoga kehadiran orang Kristen bukan bagaikan sinar yang menyilaukan dan menyengat atau redup sama sekali, melainkan menjadi sinar yang menerangi jalan kehidupan yang gelap dan menghangatkan bumi yang semakin mendingin dengan individualisme, materialisme maupun kapitalisme yang bertahta dan tanpa ampun menggerogoti rakyat yang mayoritas berada di bawah garis kemiskina di bangsa yang tercinta ini. Melalui sebuah kegiatan pengobatan gratis yang mengobati luka dan kesakitan fisik mereka, semoga mereka mampu merasakan Kasih Allah dan Eksistensi Nya dalam hidup mereka. Semoga luka terdalam mereka juga turut sedikit-demi sedikit terpulihkan bersamaan dengan kehadiran setiap kita yang mau memiliki Kasih yang berbagi. Biarlah umat Tuhan nyatakan Terang- NYA. Soli deo Gloria.


Topik Terkait :
PRAY FOR THE NATION : Surat Doa Surabaya September-Oktober 2011
Liputan Pengobatan Gratis Perkantas 2010
0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

LENGKAPI DATA ANDA

Pray and Proclaim - Penutupa...
Penutupan Bulan PI, Minggu, 14 Mei 2017, Pukul 13.00-16.00 WIB, tempat Ruper Perkantas Surabaya,Jl. Tenggilis Mejoyo KA 10 Surabaya "Pray and Proclaim" By. Akhung. Konfirmasi kehadiran hubungi :Evif...
Evangelism Training and Gath...
Evangelism Training and Gathering PKK-CPKK, 11 Maret 2016, Pukul 10.00-15.00 WIB &12 Maret 2016, Pukul 14.00-16.00 WIB di Tenggilis Mejoyo KA 10 Surabaya, Cp: Ria (0852 5080 0088)...
Kamp Kelompok Tumbuh Bersama...
Kamp Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) Surabaya, 3-5 Februari 2017, Tempat Villa Dharmaningsih, Pacet Mojokerto, Pembicara Dr. Iman Santoso, Ev. Anggriadi Ricky M.Div, Ev. Anthon Kathoba M.Div, Akhung Ber...
Kamp KTB Mahasiswa 2016 - Fo...
Pemuridan dalam dunia mahasiswa dikerjakan dengan tujuan menghadirkan pribadi-pribadi yang mengenal, mengalami, dan mengandalkan Kristus dalam seluruh aspek hidupnya. Hal ini kelak akan memberikan pen...
Lihat Semua Kegiatan >>


1360338

Saat ini ada 87 tamu dan 0 online user