Pokok Doa  |  Link
Email: Password:   Lupa Password?
MAHASISWA KRISTEN YANG MEMBANGUN MORAL BANGSA
oleh Gadi Makitan (Jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya Malang): 04-07-2009, Dibaca: 2564kali

Change We Need! Inilah slogan Barrack Obama ketika berkampanye. Visi perubahan yang didengungkan terbukti menarik simpati orang banyak sehingga ia terpilih menjadi presiden. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Amerika sedang jenuh dengan keadaan dan mengharapkan adanya perubahan.

Tidak hanya di Amerika, kita - rakyat Indonesia -  juga menginginkan perubahan. Kita tidak puas dengan keadaan sekarang. Kita jenuh dengan krisis multidimensi. Krisis-krisis yang sebenarnya  hanyalah manifestasi dari krisis yang lebih dalam, yaitu krisis karakter bangsa.

Sebagai orang yang ber-wawasan dunia Kristen (Christian worldview), perubahan yang kita inginkan tidak hanya terletak dalam narasi sempit kejayaan bangsa Indonesia. Lebih dari itu, kita memandang perubahan itu dalam narasi yang lebih besar. Narasi itu adalah inaugurasi Kerajaan Allah, yaitu hadirnya Allah yang secara aktif memerintah sehingga itu muncul dalam berbagai manifestasi di antaranya shalom dan pembebasan dari penindasan.

Tiap pengikut Kristus dituntut berpartisipasi dalam menghadirkan suasana pemerintahan Allah. Artinya, mereka harus mempraktikan karakter-karakter tandingan yang menjadi terang di tengah bangsa yang gelap ini dan akhirnya bisa menjadi garam yang mempengaruhi karakter (moral) masyarakat.

Sebagai golongan intelektual muda yang mempunyai wawasan luas, landasan keilmuan, dan sedang berada di tengah-tengah calon pemimpin bangsa lainnya di kampus, bagaimana seharusnya mahasiswa Kristen berperan dalam pembangunan moral bangsa?

 

PAMBANGUNAN MORAL BANGSA: BELAJAR PADA KAUM PURITAN DI AMERIKA SERIKAT

Landasan dari pembangunan moral bangsa adalah adanya kesepakatan mengenai sebuah visi etis tentang bagaimana hidup berdampingan dengan orang lain. Dalam ilmu sosial, ini dikenal dengan modal sosial (social capital). Fukuyama mendefinisikan modal sosial sebagai

“...seperangkat nilai atau norma informal yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang memungkinkan kerja sama di antara mereka...mencakup nilai-nilai seperti berkata jujur, menunaikan kewajiban, dan taat pada asas timbal balik. Tidak mengherankan, norma-norma itu sangat tumpang tindih dengan norma-norma yang berasal dari nilai-nilai Puritan...”[1]

 

Dalam tulisannya, Fukuyama membandingkan norma kerjasama antara mafia Italia dan kaum Puritan. Tentang mafia Italia, Fukuyama mengatakan bahwa orang dituntut bersikap loyal dan percaya hanya kepada keluarga, tidak ke semua orang.

 

“Jelas, norma-norma seperti itu tidak dapat menghidupkan kerja sama sosial, dan dampak buruknya bagi pemerintah dan pembangunan ekonomi telah banyak diteliti. Italia selatan merupakan sumber korupsi yang merajalela dalam sistem politik negara itu, juga merupakan salah satu wilayah temiskin di Eropa Barat.”[2]

 

Mengacu pada karya Weber tentang Etika Protestan, keadaan itu kemudian dibandingkan dengan nilai-nilai dari kaum Puritan sebagai hasil dari Reformasi Protestan,

 

“Apa yang membuat Reformasi penting bagi Weber bukanlah (semata-mata) karena reformasi itu mendorong kejujuran, asas timbal balik, dan sikap hemat dalam kalangan pengusaha, melainkan karena nilai-nilai ini untuk pertama kali diterapkan secara luas di luar keluarga.”

 

Ada hal yang menarik di sini. Mungkin nilai-nilai kejujuran, kepercayaan (trust), dan menunaikan kewajiban sama-sama dimiliki oleh kedua kelompok itu. Namun, yang membedakan adalah kepada siapa sikap itu ditujukan dan apa dampaknya bagi bangsa. Mafioso[3] menujukan modal sosial itu hanya bagi keluarga mereka dan menghancurkan bangsa itu dengan korupsi dan nepotisme, kaum Puritan menujukan modal sosial itu bagi semua orang dan membangun moral bangsa.

Mengapa modal sosial kaum Puritan yang diterapkan secara luas di luar keluarga bisa membangun moral bangsa?  Sederhana. Nilai-nilai etika Kristen itu dipraktikkan secara konsisten, inklusif, dan menyeluruh dalam semua aspek kehidupan sehingga itu menjadi budaya yang menonjol. Budaya itu membuat orang lain tertarik karena mereka juga merasakan kasih dan damai sejahtera dari komunitas Puritan. Lalu, norma-norma yang dipraktekan itu menjadi sesuatu yang umum (common virtue).

Fenomena ini bisa dikonfirmasi secara teoritis dengan memahami perspektif Konstruktivisme dari dua orang Sosiolog, Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Menurut mereka, suatu makna, norma, atau yang lebih luas disebut budaya, bisa dikonstruksi menjadi sesuatu yang obyektif (diterima secara umum) melalui tiga fase, yaitu eksternalisasi, obyektifikasi, dan internalisasi.[4]

Eksternalisasi adalah suatu fase di mana budaya (norma dan pemaknaan terhadap sesuatu) dimunculkan ke luar oleh manusia. Dengan mempraktikkan etika Kristen secara konsisten, kaum Puritan sedang melakukan eksternalisasi.

Fase selanjutnya adalah obyektifikasi, di mana praktik-praktik budaya itu menjadi sesuatu yang umum. Ada empat cara, yaitu institusionalisasi (pelembagaan), historisitasi, legitimasi, dan melalui bahasa. Yang relevan dengan yang sedang kita bahas adalah institusionalisasi.

Institusionalisasi atau pelembagaan adalah proses pembiasaan praktik-praktik atau etika tertentu dalam hidup bermasyarakat. Ketika hidup berdampingan, orang membutuhkan suatu panduan supaya hubungan sosial bisa berlangsung dengan adil dan sejahtera. Ini bisa muncul melalui proses timbal balik dalam membuat kesepakatan bersama untuk menjalani sesuatu pada orang-orang yang mempunyai status sejajar dalam masyarakat.

Jika ada pedagang sukses yang berasal dari kaum Puritan yang melakukan deal-deal perdagangan berdasarkan etika Kristen, pasti orang-orang yang berdagang mau tidak mau bersepakat dengan aturan main dari pedagang Puritan ini. Karena etika Kristen dalam berdagang bukanlah hal yang merugikan (karena menekankan pada keadilan dan kejujuran), maka norma itu bisa diterima secara umum sebagai panduan berdagang.

Fase yang terakhir adalah internalisasi, di mana norma-norma yang diterima secara umum itu ditanamkan dalam diri seseorang. Ini bisa dilakukan dengan pendidikan dalam keluarga dan sekolah.

 

PERAN MAHASISWA KRISTEN

Kampus adalah lingkungan di mana generasi muda dipersiapkan sesuai dengan minat keilmuannya untuk menjadi pemimpin bangsa. Ini merupakan tempat yang baik untuk mengeksternalisasi dan mengobyektifikasi Etika Kristen.

Bagaimana keadaan kampus di Indonesia? Menyedihkan. Gaya hidup hedonistik, free sex, dan aktivisme tanpa landasan keilmuan berikut tanggung jawab terhadap studi mudah ditemukan di lingkungan kampus.

Organisasi-organisasi seperti himpunan mahasiswa dan lain sebagainya ternyata juga menjadi tempat kaderisasi koruptor-koruptor handal bangsa ini. Nilai seperti memanipulasi anggaran untuk “uang lelah” berkembang dalam organisasi ini, dan menjadi sesuatu yang umum.

Namun, justru keadaan yang menyedihkan ini seharusnya menjadi pengharapan bagi kita. Inilah kesempatan untuk melihat pemulihan.

Bayangkan adanya mahasiswa-mahasiswa Kristen yang secara konsisten, inklusif, dan menyeluruh mempraktikkan gaya hidup Kristen. Mempunyai karakter yang jujur di tengah orang-orang yang korup, bertanggung jawab di tengah orang-orang yang mangkir, mengasihi sesama seperti dirinya sendiri, berjuang untuk menentang ketidakadilan, berbelas kasihan terhadap sesama, dan menggunakan keilmuannya untuk membangun masyarakat.

Mereka juga jauh dari contek-menyontek dan berkata kepada sahabatnya, “Aku akan ngajarin kamu semaleman sampai bisa. Tapi kita sepakat, aku gak akan nyontekin kamu saat ujian. Ok?”

Konsistensi itu kemudian membuat norma Kristen kemudian menjadi populer, sedikit-banyak orang tetarik, dan norma itu bisa menjadi sesuatu yang umum. Mahasiswa-mahasiswa itu menjadi pelopor kebangkitan moral di lingkungan calon pemimpin bangsa. Inilah peran mahasiswa Kristen secara praktis dan esensial dalam pembangunan moral bangsa.

Tetapi, di tengah harapan ini, kita juga dikecewakan dengan fakta bahwa mahasiswa Kristen ternyata “tidak begitu-begitu amat”. Ada yang terlibat free sex, terbiasa titip absen, korupsi, dan sebagainya. Jadi bagaimana?

 

PEMULIHAN, DISPILIN, JEJARING, DAN SINERGI

Kuncinya adalah pada komunitas, dalam hal ini Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK).  Stassen dan Gushee menyatakan bahwa “kita harus menekankan bahwa karakter dibentuk bukan oleh diri sendiri, tetapi oleh pengaruh komunitas yang membentuk, mendorong, dan mengoreksi.”[5]

Stassen dan Gushee juga menyatakan bahwa Etika Kristen adalah etika berbasis karakter yang menghadirkan kasih, keadilan, pembebasan dari ketertindasan, kemurahan, dan belas kasihan dalam berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, “kebajikan-kebajikan memerlukan komunitas di mana mereka dilahirkan, ditumbuh-kembangkan, dan dimatangkan.”[6]

Usaha displin komunitas untuk melahirkan, menumbuhkembangkan, dan mematangkan pribadi yang berkarakter akan percuma jika hambatan yang ada pada setiap individu tidak disingkirkan. Apa yang paling menghambat pembentukkan karakter? Dosa.

Kita sama-sama tahu bahwa dosa harus disingkirkan. Namun, bagaimana menyingkirkan dosa dari komunitas?

Menyingkirkan dosa dari komunitas bukan dengan cara menyingkirkan orang yang berdosa, tetapi memulihkan orang yang berdosa. Pemulihan tidak akan pernah terjadi jika tidak ada pengakuan dosa di dalam komunitas. Dan, pengakuan di dalam komunitas tidak akan pernah terjadi jika tidak ada yang berani untuk mengaku.

Dietrich Bonhoeffer mengemukakan beberapa disiplin dalam membangun komunitas Kristen. Satu yang relevan dan penting dalam pembahasan kita adalah disiplin pengakuan dosa.

”Melalui pengakuan dosa, suatu terobosan menuju kehidupan yang baru akan terjadi. Di mana dosa dibenci, diakui, dan diampuni, di sanalah pemutusan dengan masa lalau dapat terwujud...memikul salib kita, yaitu bila kita malu untuk menanggung kematian yang memalukan dari seorang pendosa”[7] 

 

Dosa yang banyak menggerogoti kalangan mahasiswa tapi yang justru sulit untuk berani diakui adalah dosa seksual. Dosa itu mempertebal rasa malu kita sebagai seorang manusia karena itu berkaitan dengan identitas seksual.

Oleh karena itu, kita tidak boleh memandang dosa seksual dengan sebelah mata. Dosa itu harus mendapat perhatian khusus dan treatment yang serius karena hanya dengan pribadi-pribadi yang pulihlah disiplin-displin pembentukan karakter dan pelayanan bisa dijalankan.

Memberikan perhatian khusus berarti memastikan tiap anggota komunitas persekutuan mau memberanikan diri untuk mengakui dosa itu dalam komunitas. Jaminan penerimaan komunitas terhadap orang yang berdosa itu penting dalam memberikan rasa aman untuk seseorang tetap berani mengaku untuk ditolong walaupun dia merasa diri lebih jijik dari yang lain. Dalam tahap tertentu, dan tentunya dengan pertimbangan yang sangat matang, seorang pemimpin juga bisa mengakui dosa dan pertobatannya untuk menguatkan orang lain.

Bagaimana melakukan treatment yang serius? Inilah mengapa kita perlu berjejaring dengan komunitas pelayanan yang lain. PMK memiliki kekhususan pelayanan untuk mengkader calon pemimpin bangsa dengan melatih mereka untuk memahami dan menghidupi Firman Tuhan di mana saja mereka diutus, khususnya dalam lingkungan kampus. Dengan spesifikasi itu, PMK harus mau menyadari bahwa kita membutuhkan pelayanan lain, misalnya pelayanan konseling untuk mengatasi masalah yang bukan menjadi ranah spesifik PMK.

Jejaring dengan lembaga misi, penerbitan buku, pelayanan sosial, atau lembaga-lembaga lain yang mendukung visi Kerajaan Allah niscaya dilakukan mengingat spefisikasi pelayanan PMK dan juga untuk menghindarkan diri dari ”berlelah-lelah membangun kerajaan sendiri”.

Setelah pemulihan, disiplin, dan jejaring dengan pelayanan lain dilakukan, langkah yang terakhir adalah bersinergi dengan kaum lain. Tidak ada salahnya jika anggota PMK mengkuti aksi-aksi sosial yang diadakan kampus mengingat tidak semua PMK mempunyai kapasitas untuk melakukan itu.

Selain keterbatasan kapasitas, keuntungan dari bersinergi adalah kita bisa mempraktikkan karakter atau etika Kristen dalam konteks masyarakat kampus yang konkret. Kembali meminjam terminologi Berger dan Luckmann, sinergi dengan kaum lain adalah kesempatan kita untuk mengeksternalisasi etika Kristen sehingga itu bisa menjadi sesuatu yang umum.

Lebih bagus lagi jika PMK bisa menjadi promotor dari suatu gerakan sosial, entah itu berupa pengentasan kemiskinan ataupun aksi damai menentang ketidakadilan struktural. Ketika PMK menjadi promotor, mereka mempunyai posisi tawar yang lebih untuk memberikan landasan etis dari gerakan itu. Sederhananya, sing nggae PMK, sing liya manut.[8] Di sinilah proses obyektifikasi norma Kristen dimungkinkan berlangsung. Para ethical men dari PMK jelas dibutuhkan untuk bersinergi dengan masyarakat luas untuk menghasilkan perubahan yang kita impikan.

 

MENGHADIRKAN LAWATAN ALLAH MELALUI ORANG-ORANG YANG LEBIH DULU DILAWAT

Stassen dan Gushee mengemukakan suatu interpretasi profetik berbasis anugerah dalam menafsirkan Ucapan Bahagia. Mereka mengatakan bahwa ini adalah teks tentang perayaan karena Allah sedang bertindak dengan berkemurahan untuk membebaskan kita dari kemisinan, tawanan menuju pembebasan, keadilan, dan sukacita dalam pemerintahan Allah.[9]

Inti dari penafsiran yang mereka lakukan adalah bahwa penghiburan bagi yang berdukacita, kepuasan bagi yang lapar dan haus akan kebenaran, dan kemurahan bagi yang murah hatinya, datang dari orang-orang yang lebih dahulu mengalami penghiburan, kepuasan, dan kemurahan dari Allah. Kebajikan-kebajikan seperti kesucian hati, kerendahan hati, membawa damai, dan berani dianiaya karena kebenaran adalah kebajikan-kebajikan yang bisa dipraktikkan hanya oleh orang yang mendapat anugerah Allah.

Kalau boleh disimpulkan, makna penafsiran ini bagi kita adalah lawatan Allah hadir melalui orang-orang yang sudah dilawat terlebih dahulu oleh Allah.

Kita sedang berharap akan lawatan Allah dalam membangun moral bangsa Indonesia. Itu bisa terjadi ketika mahasiswa Kristen yang sudah mengalami lawatan Allah melalui PMK mempraktikkan karakter Kristen dalam seluruh kehidupan kampus secara inklusif (kepada siapa saja, tanpa pandang bulu) dan konsisten sehingga norma itu menjadi cahaya yang menerangi dan garam yang mencegah pembusukkan moral.

------

BAHAN BACAAN

Allan, K. (2006). Contemporary Social and Sociological Theory. California: Pine Forge Press.

Comiskey, A. (2005). Strength in Weakness. Malang: Literatur SAAT.

Fukuyama, F. (2005). Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Gushee, D. P., & Stassen, G. H. (2008). Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini. Surabaya: Momentum.

Poloma, M. M. (2007). Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

 

 


[1] Fukuyama, F. (2005). Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru. Diterjemahkan oleh Masri Maris. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. hal. 19-21.

[2] Ibid. hal. 20-21

[3] Istilah kaum mafia di Italia.

[4] Allan, K. (2006). Contemporary Social and Sociological Theory. California: Pine Forge Press. hal. 31.

[5] Stassen, G. H., & Gushee, D. P. (2008). Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini. Diterjemahkan oleh Peter Suwadi Wong. Surabaya: Momentum. hal. 51.

[6] Ibid. hal. 51.

[7] Boenhoeffer dalam Shaw, M. (2003). Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja. Diterjemahkan oleh The Boen Giok. Surabaya: Momentum

[8] Bahasa Jawa, artinya: yang membuat (menggagas) adalah PMK, (pihak) yang lain ikut saja.

[9] Stassen, G. H., & Gushee, D. P. (2008). Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini. Diterjemahkan oleh Peter Suwadi Wong. Surabaya: Momentum. hal. 22.


2 Komentar
keren
oleh Victor Kurniawan, 2009-11-30 20:52:13

 luar biasa brother...

@Victor: Diajak dong
oleh Akhung, 2009-12-01 12:39:09

Tor.. anak2 malang di suruh daftar dong jadi user.. Gadi juga nih.. tulisannya dah terpampang tapi orangnya blum jdi user...

Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA
Surat Doa MURID Edisi Januari ...
27-02-2014, Dibaca: 133 kali
Segala sesuatu ada waktunya (Pengkotbah 3:1). Tuhan memberikan semua masa untuk ...
Informasi Pelayanan Siswa dan ...
26-02-2014, Dibaca: 138 kali
Sungguh besar anugerah dan kesetiaan-Nya bagi pelayanan yang dikerjakan di ladan...
HAPPINESS IS THE LORD - Kebakt...
26-02-2014, Dibaca: 79 kali
Bersyukur untuk Kebaktian Awal Tahun Pelayanan Perkantas Papua yang terlaksana p...
FACING THE GIANTS - Retret Gab...
26-02-2014, Dibaca: 88 kali
Bersyukur untuk kesempatan mengadakan Retret Gabungan Siswa Mojokerto dalam rang...
Lihat Semua Berita >>
ARTIKEL TERBARU
Bekerja (yang) Menginjil...
oleh Johan Deretah : 26-02-2014
Mahasiswa: Peluang bagi Mandat...
oleh Anggriady Ricky: 26-02-2014
Mempersiapkan Pasukan Garis De...
oleh Krisna Yogi Pramono: 26-02-2014
Hidup yang Berpadanan Dengan I...
oleh Fenti Eka Maris: 25-02-2014
PRIORITAS - Hagai 1...
oleh Anthon Katobba Mapandin: 19-11-2013
Tetaplah Berlari (Filipi 3:1-...
oleh Yudo Kristanto: 19-11-2013
Kuasa Kebangkitan Kristus...
oleh Marlia Ernawati*: 10-04-2013
IMANUEL...
oleh Reizky Imanuel Nussy: 28-02-2013
Lihat Semua Artikel >>


2793

Saat ini ada 6 tamu dan 1 online user
ONLINE USER :
Fandy
KOMENTAR TERBARU
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53
cara membeli video...
   Akhung, 2011-04-26 16:29:45
cara membeli video kam nas 2...
   sandi, 2011-04-26 15:42:08
Menejemen Hijau. ...
   natan, 2011-04-18 12:00:08
Materi seminar...
   Daud, 2011-04-04 10:21:05
CD KNM 2010...
   Admin, 2011-02-24 09:58:14
Apa sudah terima?...
   Angie, 2011-02-24 09:39:38
Sola Scriptura Akademis di J...
   Akhung, 2011-01-17 08:09:40