more"/> more">
Your will, Your Way Lord
Last Updated : Jun 14, 2019  |  Created by : Administrator  |  234 views

Oleh Marlia Ernawati.M.Div

Dalam ketidakpastian, seseorang akan merasa gelisah, khawatir dan cemas. Kondisi ini jika diterjemahkan dalam bahasa kekinian disebut galau. Ketidakpastian disebabkan karena ketidaktahuan akan sesuatu yang ada di depan. Mungkin yang kita lakukan ketika berada dalam kondisi galau adalah “kepo,” atau ingin tahu terhadap sesuatu hal itu dengan tujuan supaya kita segera mendapat kepastian. Atau kita bisa “curhat” kepada teman/kakak yang kita percaya untuk mendapatkan bimbingan bagaimana mengatasi kegalauan. Sebagai orang percaya, kita bisa juga berdoa kepada kepada Allah. Bagaimanakah doa yang benar dalam kaitannya dengan memahami kehendak Allah pada saat kita sedang bergumul atau berada dalam kondisi galau?

Doa Yang Relasional

Doa adalah komunikasi yang relasional dan personal dengan Allah. Doa bukan sebuah rutinitas. Doa bukan ritual keagamaan. Doa membawa setiap orang percaya untuk mengenal Allah lebih dekat dan mengalami Dia lebih nyata. Doa mampu menyelaraskan hati orang percaya dengan hati Allah, sehingga dia mengerti kehendak-Nya. Doa bukan untuk memaksa Allah melakukan keinginan kita. Doa bukan ajang untuk mengklaim Firman Allah demi memuaskan kedagingan kita. Doa adalah sebuah proses mengenal isi hati Allah, dan kemudian mentaati-Nya dengan penuh kasih kepada-Nya. Ketika kita memahami doa seperti ini, maka kita akan memahami kehendak Allah dengan lebih clear.

Memahami Kehendak Allah

Kehendak Allah selalu berjalan selaras dengan Firman-Nya. Ada kehendak Allah yang nyata dengan jelas di dalam Firman-Nya, tetapi ada kehendak Allah yang sifatnya personal dan sangat praktis, yang membutuhkan tuntunan-Nya. Roh Kudus hadir dalam kehidupan orang percaya untuk memberikan hikmat dan tuntunan-Nya untuk menjalani hidup sampai kepada hal-hal yang praktis. Hal ini bergantung kepada kedalaman pengenalan kita akan Allah, dan realitas pengalaman iman bersama dengan Allah. Tuntunan Roh Kudus bagi setiap orang percaya berbeda-beda, begitu dinamis dan sangat personal.  

Disiplin rohani yang kita bangun setiap harinya menghasilkan kepekaan untuk memahami tuntunan Roh Kudus. Sebaliknya pelanggaran kita dapat membuat kita tidak peka terhadap tuntunan Roh Kudus. Kecintaan kepada Allah yang terus dipupuk setiap harinya menghasilkan ketaatan yang penuh kepada kehendak-Nya. Sebaliknya kecintaan kepada diri sendiri dalam bentuk nafsu, kekuasaan, materialisme, hedonisme, dan sebagainya, menghasilkan ketidaktaatan kepada kehendak-Nya (2 Timotius 3:1-9).

Seseorang yang telah mengalami anugerah pengampunan dan keselamatan di dalam Kristus, dalam dirinya mengalir sebuah kerinduan yang dalam untuk menyenangkan hati Allah, menaati apa yang menjadi kehendak-Nya. Dalam dirinya ada kuasa Ilahi yang Allah berikan untuk menangn atas dosa, seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 1:3, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.”

Dalam menaati kehendak Allah, kita membutuhkan kerelaan, kerendahan hati, dan ketundukan yang penuh sehingga kita dapat mengalami kebebasan dan kemenangan di dalam Dia.

 

Dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan, “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,” dengan maksud mengajak para murid untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak Bapa, dalam rangka untuk menghadirkan Kerajaan Allah melalui kesaksian hidup para murid-Nya. Doa yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya berfokus kepada penggenapan kehendak Allah di bumi seperti di sorga, yang membawa kemuliaan bagi nama-Nya.

Dalam peristiwa yang lain, menjelang penderitaan dan kematian-Nya Yesus berdoa di taman Getsemani. Ia bukan sedang bergumul taat atau melawan kehendak Allah, melainkan menyerahkan diri-Nya dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Pergumulan Yesus di taman Getsemani sebenarnya adalah pergumulan untuk menanggung murka Allah atas dosa seluruh umat manusia. Hal itu berarti bahwa Yesus “sejenak” harus terpisah dari Bapa. Keterpisahan karena dosa manusia inilah yang membuat Yesus berseru di atas kayu salib, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.”

Ini bukan keterpisahan secara fisik, tetapi Allah “memalingkan muka sejenak“ dari Yesus karena menanggung hukuman dosa manusia. Doa yang Yesus naikkan kepada Allah Bapa, bertujuan untuk menggenapkan kehendak Allah bagi keselamatan umat manusia.

Bagaimana dengan doa-doa yang kita naikkan kepada Allah? Kita perlu introspeksi diri kita, bagaimana hubungan kita dengan Allah selama ini, intim atau hambar? Apakah isi doa-doa kita adalah berserah kepada kehendak Allah atau kita menuntut Allah mengabulkan keinginan kita? Yohanes 15:7 berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Kebenaran ini mengajarkan kepada kita bahwa seseorang yang tinggal di dalam Tuhan dan Firman-Nya, maka kehendaknya diselaraskan dengan kehendak Allah dalam Firman-Nya, sehingga apa yang dia minta tidak akan bertentangan dengan Firman-Nya, dengan demikian Tuhan akan mengabulkan permintaannya.  

Saat ini mungkin kita sedang galau karena ketidakpastian, atau sedang bergumul untuk memahami kehendak Allah di masa depan. Entahkah itu pergumulan untuk masuk sekolah/universitas yang tepat untuk diri kita atau anak-anak kita, atau pergumulan tentang pekerjaan yang tepat atau pasangan hidup yang tepat. Bagaimana kita membawa setiap pergumulan kita di hadapan Allah di dalam doa-doa kita? Hal yang menjadi penting adalah apakah kita berserah kepada kehendak-Nya atau kita sedang memaksakan kehendak kita kepada Allah? Bagaimana kita tahu kehendak-Nya? Seperti yang sudah diungkapkan di atas, itu bergantung kepada kedalaman pengenalan kita akan Allah dan kepekaan kita pada tuntunan Roh Kudus.

Pengenalan kita akan Allah melalui Firman-Nya akan menuntun kita berdoa sesuai dengan kehendak-Nya. Doa-doa yang kita naikkan akan membawa kita untuk mengenal Allah lebih dekat, sehingga kita memahami kehendak-Nya. Roh Kudus akan menuntun kita untuk berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Akhirnya, selamat bergumul, kiranya Allah menolong kita. Amin.

(* Penulis melayani Pelayanan Siswa Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES