more"/> more">
Oleh Noni Elina Kristiani
Ingatan saya masih melekat pada hari di mana saya melayani sebagai pemberita firman Tuhan, di Persekutuan Siswa Kristen Banyuwangi bulan April 2023. Setelah mempersiapkan dengan baik khotbah dengan tema “Kristus adalah Pusat dari Keluarga,” saya menyampaikannya dengan emosional karena turut bersaksi tentang bagaimana Kristus mengubah hidup saya di tengah segala keberadaan keluarga orang tua saya. Di akhir khotbah, saya mengajak siswa yang mengalami pergumulan di keluarganya untuk mengangkat tangan dan saya doakan. Kemudian saya bernyanyi, beberapa siswa mulai menangis. Saat itu saya merasakan hadirat Tuhan!
Melayani siswa adalah panggilan hidup saya. Saya sangat menyukai bagaimana cara Allah berbicara melalui setiap pelayanan yang saya lakukan. Firman Tuhan meneguhkan diri saya sendiri sebelum didengar oleh orang lain. Namun saya memiliki masalah dengan keinginan dalam diri. Seharusnya saya sudah mengakhiri doa tersebut, namun saya tetap ingin melanjutkan “pertunjukannya”. Saya mencoba bernyanyi sekali lagi, namun justru salah mengambil nadanya sehingga terdengar sumbang. Cukup sumbang untuk membuat seorang siswa tertawa di tempat duduknya. Dalam hati saya panik, tetapi tetap melanjutkan nyanyian tersebut satu bait, lalu turun panggung.
Setelah ibadah berakhir, ketika tiba saatnya saling bersalaman, beberapa siswa mengucapkan terima kasih. Seorang guru agama memberi apresiasi dan berkata “Itu tadi kesaksian yang luar biasa, saya sangat terharu.” Lalu seorang adik KTB saya berkata, “Kak Noni keren.” Saya tersentuh dan senang dengan respons mereka. Tidak ada yang mengomentari suara sumbang saya selain diri saya sendiri. Ego saya begitu terluka karena tidak mengakhirinya dengan “sempurna” sesuai dengan harapan saya. Saat itulah saya menyadari bahwa kesombongan telah menguasai saya. Saya sangat malu namun juga bersyukur. Kejadian itu Tuhan izinkan terjadi supaya saya sadar, bahwa sebagai seorang rohaniwan saya tidak kebal terhadap dosa kesombongan.
James Bryan Smith dalam bukunya The Good and Beautiful Life, menuliskan bahwa kesombongan merupakan dosa yang paling sering muncul dalam diri orang rohani. Kebanyakan orang yang merasa tidak memiliki pergumulan dengan dosa seperti kemarahan, umpatan, iri hati, pornografi dan dosa-dosa lainnya, akan merasa cukup baik hingga merasa bisa memperoleh hidup kekal dengan perbuatan baiknya sendiri. Hanya orang-orang yang merasa dirinya cukup rohani dan telah memenuhi standar kebaikan moral yang dapat berkata, “yang sombong adalah dia, bukan saya.” Maka sebenarnya mereka sedang bersikap sombong. Kesombongan merupakan dosa yang paling tua yang membuat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, karena mereka ingin menjadi sama dengan Allah.
Berbicara tentang kesombongan, saya teringat pada perkataan Paulus: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1 Timotius 1:15). Menarik, bahwa Paulus yang menulis 14 surat dalam Perjanjian Baru demikian mengakui keberdosaannya. Hal ini bukan tentang masa lalu Paulus, tetapi tentang kerendahan hati yang menyadarkannya bahwa tidak ada yang baik dalam dirinya selain dari Kristus itu sendiri. Jean Larroux dalam Grace is Greater menulis bahwa jika pendosa terbesar yang Anda kenal bukanlah Anda, maka Anda tidak mengenal diri Anda sendiri dengan baik. Hal ini ditegaskan oleh Yohanes: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yohanes 1:8).
Jadi, apakah hidup tanpa kesombongan itu mungkin? Menurut saya, bagi manusia yang masih terdiri dari darah dan daging ini, kesombongan adalah keniscayaan. Justru kemurahan Allah dapat semakin nyata melalui karya Roh Kudus yang memampukan kita untuk sadar, bahwa kita adalah orang sombong yang sudah diselamatkan oleh Yesus. Jika nilai diri kita tidak berdasarkan apa kata orang melainkan apa kata Tuhan, maka kita tidak akan merasa kesulitan untuk mengakui dosa yang telah kita perbuat. Fakta bahwa saya adalah manusia berdosa itu benar, tetapi belum sepenuhnya. Saya adalah manusia berdosa yang sangat dikasihi oleh Allah, itulah kebenaran yang utuh. Jika kesombongan adalah keniscayaan, setiap orang percaya pasti pernah mengalaminya. Karena kita tidak kebal terhadap dosa yang satu ini, maka kita perlu memiliki sikap rendah hati dan mau selalu dikoreksi.
Saya bersyukur, keterbukaan saya tentang keluarga yang tidak sempurna pada pelayanan kotbah di bulan April tersebut, membuat beberapa adik siswa mau terbuka dengan kondisi keluarganya yang sedang hancur. Kami akhirnya dapat saling berbagi cerita dan saling mendoakan. Tuhan sendirilah yang berbicara kepada puluhan siswa yang hadir saat itu, dan saya yakin bahwa Dia terus bekerja untuk memulihkan hati mereka. Melalui manusia yang dikuasai oleh kesombongan seperti saya, Tuhan masih bekerja. Saya juga bersyukur, melalui suara sumbang yang diizinkan-Nya, saya diingatkan untuk terus rendah hati. Saya tidak layak menunjukkan betapa hebatnya diri saya. Saya hanya perlu menunjukkan Siapa yang sedang saya beritakan, dan Dialah satu-satunya yang layak untuk menerima pujian. Dia adalah Allah yang telah menebus saya dari cengkraman maut, dan memanggil saya sebagai anak-Nya. Kepada Dialah, Kristus, lampu sorot harus diarahkan. (Penulis melayani Pelayanan Siswa Perkantas Banyuwangi)