more"/> more">
Renungan E-Murid - “Seeing the World Through Jesus’ Eyes”
Last Updated : May 15, 2025  |  Created by : Administrator  |  1295 views

Refleksi dari Matius 9 tentang Belas Kasihan, Kerajaan, dan Pekerja yang Sedikit

Oleh Bonan Ratmo Imanuel, S.T

Jika engkau memiliki mata, maka melihatlah. Jika engkau memiliki hati, maka berbelas kasihlah. Kalimat ini menggema, ketika membaca dan mendalami Matius 9, sebuah bagian yang tidak hanya memamerkan kuasa Yesus, tetapi juga memperlihatkan kedalaman belas kasih-Nya.

Ketika membaca Matius pasal 9 secara menyeluruh, saya dikejutkan bukan hanya  banyaknya mujizat yang dilakukan Yesus, tetapi juga oleh bagaimana Dia melihat manusia. Dalam satu pasal ini saja, Yesus menyembuhkan orang lumpuh, memanggil Matius si pemungut cukai, memulihkan perempuan pendarahan, membangkitkan anak kepala rumah ibadat, dan menyembuhkan orang buta serta bisu. Semua itu menyatakan kuasa-Nya. Namun bukan sekadar kuasa yang ingin Ia tunjukkan, melainkan siapa diri-Nya sebenarnya, Mesias yang penuh belas kasihan.

Yesus hadir di tengah orang-orang yang terpinggirkan. Mereka yang dianggap najis, berdosa, atau tak pantas. Ia menyentuh mereka, menyembuhkan mereka, memulihkan martabat mereka. Di tengah semua itu, Matius 9:36 mencatat, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Ayat ini seharusnya menjadi titik perenungan yang mendalam bagi kita para pengikut-Nya. Yesus tidak sekadar melihat kerumunan, tetapi menembus ke dalam jiwa mereka. Ia tahu bahwa di balik rutinitas, atau penderitaan mereka, ada kelelahan eksistensial. Kata “tergerak oleh belas kasihan” dalam bahasa aslinya (Yunani: splanchnizomai) menunjukkan gerakan emosi yang dalam, dari perut, dari isi hati. Bukan kasihan sesaat, tetapi belas kasih yang mendorong kepada tindakan nyata.

Belas kasih Kristus juga ditunjukkan kepada mereka yang masih terasing karena belum percaya kepada-Nya sebagai domba tanpa gembala, itu jugalah yang menjadi misi Yesus, Memberitakan Injil ke berbagai kota (ayat 35) . Ini menjadi panggilan bagi kita untuk tidak hanya mengasihi “mereka yang sudah percaya”, tetapi juga mereka yang belum mengenal-Nya. Kita perlu mengubah sikap dari menjaga jarak menjadi menjangkau, dari menghakimi menjadi merangkul. Karena Injil Kerajaan Surga bukan hanya untuk kalangan tertentu, tetapi bagi semua yang belum menemukan Sang Gembala sejati.

Pertanyaan untuk setiap pengikut-Nya, apakah kita masih punya kepekaan seperti itu? Apakah kita melihat seperti Yesus melihat? Ataukah kita sudah terlalu sibuk dengan rutinitas agamawi seperti pemimpin agama Yahudi yang juga diceritakan dalam pasal 9, atau kita sibuk mengejar ambisi pribadi, sehingga kita lupa memperhatikan jiwa-jiwa di sekitar kita, seperti Yesus memperhatikan mereka.

Yesus lalu berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (ayat 37). Ia tidak berkata “sedikit jiwa,” tetapi “sedikit pekerja.” Dunia ini tidak kekurangan orang yang membutuhkan kabar baik, tetapi kekurangan orang yang bersedia hadir dan melayani seperti Yesus, melihat dengan mata belas kasihan, dan bergerak dengan kerendahan hati.

Yang menarik, Yesus tidak langsung menyuruh para murid pergi, tetapi menyuruh mereka berdoa (ay. 38). “Mintalah kepada Tuhan yang empunya tuaian.” Mengapa berdoa dulu? Karena menjadi pekerja tuaian bukan semata-mata soal strategi, kita butuh strategi, tetapi yang terutama adalah soal hati. Hanya mereka yang berdoa dengan kesungguhan, yang terbuka dan selaras dengan hati Allah, yang bisa menjadi pekerja yang se-visi dengan-Nya.

Mari kita juga mengingat bagaimana Yesus memanggil Matius, seorang yang dianggap sampah masyarakat, namun Yesus berkata: “Ikutlah Aku.” Dan Matius bangkit, meninggalkan meja cukainya, dan mengikuti Yesus (ayat 9). Hari itu, hidupnya berubah. Ia mulai belajar melihat dunia dari cara pandang yang baru, cara pandang Sang Mesias.

Refleksi ini membawa kita pada sebuah kesimpulan sederhana, namun kuat: Belas kasihan Yesus tidak berakhir di hati-Nya. Itu menjalar ke tangan dan kaki-Nya. Dan Dia memanggil kita untuk melakukan hal yang sama. Mari kita belajar melihat seperti Yesus melihat. Melihat Manusia. Bukan hanya merespons dengan kasihan, tapi dengan tindakan. Mari kita menjadi pekerja tuaian yang tidak hanya sibuk bekerja, tapi juga mengerti isi hati Tuan Pemilik ladang.

(* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Perkantas Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES