more"/> more">
Renungan E-Murid Merawat Jiwa: Warisan Iman bagi Generasi (C)Emas.
Last Updated : Oct 09, 2025  |  Created by : Administrator  |  434 views

Oleh Ekawaty Rante Liling, S.Psi., M.Th.*)

 

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dalam pertumbuhan iman, telah berkembang dengan pesat belakangan ini. Meski, sebagian orang Kristen masih memiliki pemahaman parsial tentang masalah mental. Persoalan ini sering direduksi hanya menjadi masalah iman atau dosa, padahal di dalamnya ada dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang perlu dilihat secara utuh. Sejatinya, Kekristenan mengajarkan bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Kristus yang menjadi manusia menyingkapkan kepedulian Allah terhadap semua dimensi itu; Ia menyembuhkan tubuh, memulihkan hati yang patah, dan menyelamatkan roh manusia. Kesehatan mental bukan isu sekuler yang terpisah dari iman, melainkan bagian dari karya keselamatan yang holistik. Karenanya, pemahaman mengenai kesehatan mental perlu dimulai dari pemahaman kita tentang Tuhan dan manusia secara lebih utuh.

 

Realitas kesehatan mental di Indonesia, di mana sekitar 6,1% penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami depresi, dan seperempat masyarakat Indonesia mengalami stres, menegaskan bahwa ini adalah masalah struktural, bukan sekadar kelemahan individu.

Sayangnya, stigma masih kuat dalam komunitas Kristen. Kita sering mencari pertolongan melalui doa atau dukungan orang lain sebelum berani mendatangi tenaga profesional. Dalam konteks Perkantas, ini bisa mengakibatkan banyak siswa, mahasiswa, bahkan alumni binaan yang giat melayani, rajin ber-KTB, dan tekun menginjili, tetapi diam-diam hidup dalam iman di permukaan –dengan aktivitas rohani yang banyak– namun jiwanya rapuh di dalam.

 

Kisah Marta dan Maria dalam Lukas 10:38-42 menghadirkan gambaran yang gamblang mengenai situasi ini. Marta sibuk melayani dengan tangannya, tetapi hatinya penuh kegelisahan. Yesus berkata kepadanya, "Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik." Teguran ini bukan untuk menolak pelayanan atau aktivitas rohani, melainkan sebuah undangan untuk menyadari bahwa kegelisahan bisa menggerogoti jiwa, bahkan ketika semua itu dibungkus dengan kerajinan rohani.

Kisah Marta beresonansi dengan kecemasan generasi hari ini. Jonathan Haidt melalui bukunya, Generasi Cemas, menyebut generasi muda kini sedang mengalami The Great Rewiring (perubahan mendasar dalam pola pertumbuhan dan pola bersosialisasi). Sejak 2010, interaksi langsung tergantikan oleh layar dan media sosial, melahirkan isolasi, gangguan tidur, dan tekanan perbandingan sosial. “Marta-Marta” modern tidak hanya sibuk dalam pelayanan, tetapi juga tercerabut oleh ritme digital yang bising dan tak memberi ruang hening untuk mendengar suara Kristus. Akibatnya, segala potensi yang mereka miliki untuk menjadi “generasi emas”, menjadi tergerus oleh kegelisahan yang melanda jiwanya, sehingga justru menjadikan mereka “generasi cemas”.

 

Sementara Maria, memilih duduk di kaki Yesus—menunjukkan prioritasnya. Maria menyadari bahwa kesanggupannya melakoni hari-hari yang panjang dan melelahkan, justru bersumber dari kesempatan singkat penuh anugerah untuk duduk di kaki Yesus. Maka Maria dengan sengaja memberi ruang bagi jiwanya untuk dipenuhi firman sebelum memberi diri bagi orang lain. Kesanggupan melayani Tuhan dan sesama,  hanya mungkin lahir dari murid-murid yang terlebih dahulu berani duduk di kaki Yesus, memberi ruang bagi firman untuk menyembuhkan kegelisahan batin.

Dalam konteks Pelayanan Perkantas yang memuridkan dan menghasilkan murid, kita perlu terus merefleksikan: apakah pemuridan yang kita kerjakan telah menjadi ruang bagi kita (Staf, board, dan para binaan) untuk duduk di kaki Yesus, ataukah hanya ruang penuh aktivitas yang menghasilkan “Marta-marta” yang lelah? Di samping itu, kita perlu terus menghayati bahwa pemuridan bukan sekadar ruang pertumbuhan secara rohani, tetapi juga membersamai perjalanan hidup secara utuh. Hal ini termasuk menyediakan kesempatan bagi orang-orang yang dimuridkan untuk ditolong menghadapi pergumulan mentalnya. Di tengah-tengah pergumulan mental yang bisa melanda para pemimpin maupun anggota kelompok, kita dapat meyakini bahwa Allah bekerja bukan hanya melalui doa dan firman. Allah juga turut bekerja melalui tubuh Kristus dan sarana anugerah berupa layanan untuk merawat kesehatan mental.

Yesus berkata, "Maria telah memilih bagian yang terbaik". Bagian itu adalah keberanian untuk berhenti, mendengar, dan memberi ruang bagi firman untuk menyentuh lebih dalam daripada kegelisahan. Bagaimana jika, memilih duduk di kaki Yesus adalah langkah pertama kita sebagai murid Kristus menuju kesehatan jiwa yang sejati, pelayanan yang utuh, dan kesaksian Injil yang mendalam? Bagaimana jika di tengah terpaan isu kesehatan mental, duduk bersama di kaki Yesus, adalah warisan iman terbaik yang dapat kita berikan bagi generasi (C)emas yang kita layani? Tuhan kiranya membersamai kita.

 

Soli Deo Gloria.

 

(*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa dan Konseling di Perkantas Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES