more"/> more">
Renungan E-Murid Natal Adalah Hadiah: Menggali Kembali Makna Natal
Last Updated : Dec 26, 2025  |  Created by : Administrator  |  202 views

Oleh Victor Kurniawan*)

Sebuah Perenungan dari Matius 1:20-23, Yohanes 3:16-17

 

Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang berjudul “Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya”, sebuah karya yang diterbitkan untuk mengenang aktivis mahasiswa di era 1960-an, Soe Hok Gie. Di dalam buku tersebut ada sebuah artikel berjudul “Agama Dalam Tantangan”, di mana Gie menuliskan pengalamannya:

“Kemarin kerja saya tak banyak. Pagi-pagi mendengar ceramah antara lain dari seorang wanita atheis. Ia berkata bahwa the meaning of God adalah nonsense, ia mengatakan bahwa agama Kristen menanamkan rasa dosa kepada umat-Nya, tidak toleran, dan melarikan diri dari kenyataan”.

Biasanya saya bersikap reaktif menanggapi hal semacam itu. Namun saat itu saya mencoba merenungkan lebih dalam: Apakah kritikan perempuan dalam catatan Gie ini salah?         

Selepas merenung, saya menyadari bahwa kritik itu mungkin ada benarnya jika melihat realitas kita saat ini. Perayaan Natal akhir-akhir ini sering kali meriah, namun seperti kehilangan semangat sejatinya. Natal begitu semarak secara lahiriah, tetapi seolah kehilangan esensi yang paling mendasar.

 

Natal adalah Hadiah 

Saat kita mencoba menilik kembali Natal pertama, suasananya tidaklah seperti sekarang yang semarak, penuh dengan hiasan Natal, sinterklas, diskon,  makanan, baju baru dan sebagainya. Sebaliknya, “ornamen” Natal pertama adalah keraguan seorang pria untuk menikahi tunangannya, kesederhanaan palungan, hingga ratapan dari para ibu yang kehilangan bayi mereka karena kekelaman penguasa yang haus kuasa. Satu-satunya kemeriahan yang ada hanyalah nyanyikan malaikat surga yang didengar oleh para gembala di pandang sunyi.

Secara sosial-politik, Natal pertama  terjadi dalam situasi yang tidak nyaman. Bangsa Israel sedang terjajah oleh bangsa Romawi dan secara rohani mereka merasa kering. Di tengah kondisi ini mereka menantikan penggenapan janji para nabi: bahwa Allah akan mendatangkan keadilan bagi dan pemulihan bagi umat-Nya.

Dalam Matius 1:20-23, penulis Injil Matius menyatakan secara implisit dua pengharapan orang Yahudi: Allah akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa  dan  akan datang dan tinggal bersama mereka. Matius menegaskan bahwa pengharapan tersebut digenapi melalui kehadiran Yesus, yang namanya berarti “YHWH adalah keselamatan” dan juga disebut Immanuel yang bermakna “Allah beserta kita”. Inilah alasan mengapa Yusuf, meski sempat ragu, akhirnya tetap mengambil Maria sebagai istrinya dan tidak bersetubuh dengannya sampai masa melahirkan. Ia menyadari bahwa bayi yang dikandung Maria itu kudus dan merupakan jawaban atas penantian panjang bangsanya akan keselamatan, kelepasan dari Allah dan juga kehadiran Allah. Injil Yohanes mengungkapkan hal yang serupa dengan lensa yang berbeda. Dalam Yohanes 3:16-17 ditunjukkan bahwa alasan utama kedatangan Yesus adalah Kasih kepada dunia. Kata dunia menggunakan bahasa yunani kosmos yang berarti universe, alam semesta. Kedatangan Yesus merupakan bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaannya; Ia datang memulihkan!

Bagi saya, makna Natal dapat dirangkum dalam dua hal:

  1. Natal adalah pertunjukan kasih. Allah mau turun tangan menyelamatkan umatNya dan seluruh ciptaan-Nya.
  2. Natal adalah undangan koneksi dan keterlibatan dengan Allah. Kisah Injil menunjukkan bahwa Allah mau terkoneksi dengan umatnya serta melibatkan orang-orang dalam kisah-Nya.  Dari gembala yang dianggap rendah hingga orang Majus yang terpandang, dari penduduk lokal hingga orang asing - semua ditarik masuk ke dalam kisah-Nya

 

Belajar Merespons dengan Benar

Sosok  Yusuf  bisa memberikan inspirasi bagi kita. Meski terkesan minor, tetapi tanpa Yusuf, kisah Natal akan berbeda.

Yusuf adalah adalah pribadi yang unik. Pertama, di dalam Matius 1:18-25, dikatakan Yusuf adalah seseorang yang tulus hati (ayat 18-19). Bahasa Yunaninya “dikaios”, yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris a just man (KJV) atau a righteous man (NET), sedangkan dalam bahasa Indonesia Terjemahan Baru, diterjemahkan tulus hati. Kenneth A Bailey memberikan komentar khusus terhadap bagian ini. Dalam komentarnya, ia menuliskan bahwa penyebutan Yusuf sebagai a just man  menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang menaati hukum Taurat dan menerapkannya.

Jika demikian mengapa dia tetap menikahi Maria? Bukankah orang yang hamil di luar nikah menurut hukum Taurat harus dihukum? Inilah adalah bagian yang menarik dari sosok Yusuf. Ia memang seseorang yang menaati hukum Taurat itu, tetapi melihat keadilan dengan sudut pandang yang unik, sehingga ia dapat  menempuh ketaatan terhadap hukum dengan cara lain.

Yusuf tampaknya menghayati ketaatan terhadap keadilan hukum dari sudut pandang pelayan yang menderita yang tertulis dalam Yesaya 42:1-6. Keadilan yang ia dipahami melalui bagian ini bukanlah pembalasan setimpal atas kesalahan yang dilakukan (retributive justice) atau perlakukan yang sama sama di mata hukum (equal application of law), tetapi dalam sudut pandang Yesaya 42, keadilan berarti belas kasihan kepada yang lemah dan terpinggirkan, kepada orang-orang yang kelelahan dan kehausan. Dalam hal ini  Yusuf melihat Maria sebagai orang yang lemah dan terpinggirkan, sehingga Ia berdiri dan membelanya.

Menurut saya, inilah respons yang tepat terhadap Natal, hadiah dari Allah: Hidup dengan belas kasihan dan kepedulian terhadap orang yang lemah, dan terpinggirkan, sebagaimana Allah yang berbelas kasihan dan peduli pada umat-Nya dan segenap ciptaan.Kedua, Yusuf adalah seorang yang taat pada firman Allah. Saat dia sudah memutuskan untuk berpisah dari Maria, malaikat Tuhan menemuinya dalam mimpin dan  memberitahukan bahwa bayi itu dari Allah. Ia mendengar dengan baik dan mengubah sikapnya. Yusuf tak lagi berniat berpisah dari Maria. Ia memilih taat pada Firman Tuhan dan menjalani perjalanan dengan Maria, tetapi karena dia tahu bahwa bayi yang dikandungnya suci, ia tidak mencemarinya dengan tidak bersetubuh dengan Maria. 

Ini juga respons yang tepat terhadap Natal, hadiah dari Allah: Mendengar Firman-Nya dan menaatinya walau tidak nyaman.

Selamat Natal Sobat Murid,  Tuhan memberkati.

(*Penulis melayani pelayanan alumni dan mahasiswa di Perkantas Malang)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES