more"/> more">
"Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah..." (Mazmur. 73:28). Untaian ayat dari Pemazmur ini menjadi napas utama dalam pelaksanaan Kebaktian Awal Tahun (KATA) Perkantas 2026. Dengan mengusung tema "Sungguh Baik Berada Dekat Allah", kegiatan ini bertujuan membekali setiap pribadi untuk terus melekat pada Tuhan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, sekaligus mengucap syukur atas pemeliharaan-Nya hingga hari ini. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 13 Januari 2026 dengan dihadiri oleh para BPR, BPC, para staf dan anggota-anggota komponen pelayanan siswa, mahasiswa, dan alumni.
Kak Yemima Galih Pradipta dalam pemaparan renungan Pemazmur ini menyoroti sosok Asaf sebagai pribadi yang memiliki pemikiran kritis dalam memandang iman dan realitas. Menarik benang merah dengan pemikiran Paulo Freire, bapak pendidikan kritis, dijelaskan bahwa iman yang bertumbuh sering kali harus melewati fase dialektika—sebuah proses bertanya dan menggugat keadaan ketika realita tidak sejalan dengan apa yang diyakini.Melalui struktur sastra chiasmus dalam Mazmur 73, terlihat bagaimana Asaf menyajikan urutan ide yang kemudian diulang untuk menekankan sebuah kebenaran sentral. Meski Asaf menegaskan bahwa Allah itu baik, ia tidak memungkiri adanya pergolakan batin yang hebat saat menyaksikan orang fasik justru hidup makmur dan sombong (ay. 3-12). Ketidakadilan yang kasat mata ini memicu krisis iman yang mendalam (ay. 13-14), hingga muncul pertanyaan eksistensial mengenai apakah kesalehan hidup selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kondisi batin Asaf diibaratkan seperti sebuah lukisan berjudul "The Deep", yang menggambarkan sebuah tembok tebal sebagai representasi dari kesukaran dan kebuntuan hidup yang menghimpit. Kak Yemima mengkontekstualisasikan "tembok tebal" ini dengan tantangan manusia modern melalui riset psikolog Jonathan Haidt. Dalam analisisnya, Haidt memaparkan konsekuensi buruk dunia maya bagi pertumbuhan anak dan remaja—mulai dari gangguan tidur, kecanduan, hingga rasa kesepian dan depresi yang mendalam. Realitas digital ini sering kali menjadi tembok yang mengaburkan pandangan manusia terhadap kebaikan Allah.
Namun, narasi Mazmur ini mencapai titik balik yang krusial saat Asaf menyatakan, "sampai aku masuk ke tempat kudus Allah" (ay. 15-17). Momen ini menandai terjadinya transformasi paradigma, di mana Asaf tidak lagi membaca realita dunia dengan kacamata manusia, melainkan dengan perspektif dan cara pandang Allah. Di dalam hadirat-Nya, segala keraguan terjawab bukan dengan hilangnya persoalan, melainkan dengan hadirnya pemahaman baru mengenai akhir dari segala sesuatu.
Memasuki tahun 2026, mari kita menyadari bahwa "kedekatan dengan Allah" bukanlah sekadar aktivitas religius, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial. Di tengah dunia yang bising dan penuh ketidakpastian, sungguh baiklah berada dekat Allah. Sebab hanya di dalam Dia, hati yang lelah menemukan gunung batu yang teguh, dan jiwa yang bimbang menemukan arah yang sejati.
Kesadaran ini kiranya menjadi kompas bagi kita untuk menavigasi setiap tantangan yang mungkin membentang di depan, layaknya "tembok tebal" kesukaran yang sempat membingungkan Asaf. Kita diajak untuk tidak hanya terpaku pada apa yang tampak oleh mata jasmani, tetapi berani masuk lebih dalam ke hadirat-Nya guna memperoleh perspektif baru atas segala hiruk-pikuk dunia digital maupun pergumulan hidup. Bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan dengan ketenangan seorang hamba yang meyakini bahwa penyertaan Allah adalah kebaikan tertinggi yang melampaui segala pencapaian fana.