more"/> more">
Oleh Victor Kurniawan Pudjianto*)
Tahun lalu kita merayakan kemerdekaan Indonesia ke-75 dalam suasana keprihatinan, karena Covid-19 melanda dengan sedemikian ganas. Tahun ini, Covid-19 masih ganas, bahkan ada varian baru yang disebut Delta, yang menghajar bangsa ini, serta membuat kita kembali akan merayakan hari raya Kemerdekaan kita dalam suasana keprihatinan.
Bendera merah putih, dan umbul-umbul memang sudah terpasang di jalan-jalan, tetapi tidak akan ada pawai; tidak akan ada lomba-lomba; semua yang biasa kita lakukan ketika perayaan kemerdekaan Indonesia tidak akan ada di tahun ini. Jika perayaan tidak ada karena suasana keprihatinan oleh karena Covid-19, maka apa yang harus kita lakukan untuk merayakan hari Kemerdekaan kita?
Tentu kita tetap bisa melakukan sesuatu di tengah situasi prihatin saat ini, tetapi bukan melalui perayaan. Lalu dengan cara apa? Dalam perenungan saya, respons terbaik kita adalah meratap di hadapan Tuhan. Situasi saat ini merupakan sebuah momen yang tepat untuk kembali mengingat Tuhan dan meratap di hadapan-Nya; meratapi situasi yang sulit yang sedang dihadapi dunia dan tentu saja bangsa kita yang disebabkan oleh Covid-19.
Ratapan merupakan warisan spiritual dalam Kekristenan yang berharga yang perlu kita gaungkan kembali dalam situasi ini. Mengapa perlu digaungkan? Alasannya sederhana, warisan ini sedikit dilupakan oleh orang-orang Kristen. Seorang bernama Glenn Pemberton menuliskan bahwa hanya sekitar 13-19 persen lagu himne kita yang merupakan lagu ratapan. Padahal, 40 persen dari kita Mazmur merupakan sebuah ratapan. Fakta yang mengejutkan, bukan?
Jika kita mencoba menggali kembali mengenai meratap di hadapan Tuhan, maka ini kita akan mengingat kitab Ratapan. Kitab ini merupakan sebuah kitab yang mengekspresikan bahasa penderitaan. Latar belakang dari kitab ini adalah penghancuran Yerusalem dan Bait Allah pada tahun 586 SM oleh bangsa Babilonia. Akhirnya, orang-orang Israel yang bisa bertahan hidup menyatukan diri untuk menaikkan ratapan mereka dihadapan Tuhan. Mereka melantunkan bahasa penderitaan melalui ratapan mereka.
Jadi, jika melihat pengalaman bangsa Israel, maka meratap merupakan sebuah doa permohonan dari sekumpulan orang untuk menyatakan kebutuhan yang terdalam di hadapan Tuhan. Tetapi di dalam tulisannya, Soong Chan Rah memberikan catatan tambahan bahwa meratap di hadapan Tuhan bukan hanya sekedar menyampaikan daftar keluhan, juga bukan hanya mengenai ekspresi kesedihan ketika berhadapan dengan situasi yang sulit. Ada hal yang lebih mendalam lagi, menurut dia, ratapan merupakan sebuah respons terhadap realita penderitaan dan sebuah kesadaran penuh bahwa penting untuk melibatkan Allah di dalam konteks luka dan penderitaan tersebut.
Akhirnya, memang kita harus meratap di tengah situasi saat ini. Ratapan menjadi sesuatu yang relevan untuk dilakukan, karena Covid-19 telah menghantam dari segala sisi, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Selain itu, banyak dari antara orang- orang sebangsa kita yang pisahkan dengan orang-orang yang mereka kasihi oleh kematian. Tidak hanya itu, dua tahun berselang Covid-19 juga sudah menginjak-injak kedigdayaan manusia. Pengetahuan, kekuatan militer, kekayaan negara seperti tidak ada artinya dihadapan Covid-19. Ini adalah situasi yang berat dan penuh penderitaan, maka dalam situasi demikian kita perlu meratap, sebab ratapan merupakan bahasa penderitaan.
Memang sesuatu yang aneh perayaan kemerdekaan kita isi dengan ratapan. Tetapi, inilah yang bangsa kita butuhkan saat ini. Kita sedang tidak memiliki kemerdekaan, bangsa kita sedang rapuh. Bangsa ini sedang dikuasai oleh penjajah bernama, Covid-19. Jadi, ratapan menjadi sebuah respons yang tepat. Melaluinya kita memohon kepada Tuhan supaya bangsa kita dan bahkan dunia kembali pulih.
Mari kita ajak komunitas kita, untuk meratap di hadapan Tuhan dan memohon pemulihan bagi bangsa kita dan dunia ini. (* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Malang)
(* Ilustrasi gambar diambil dari Sumber: freepik.com