more"/> more">
Thriving in Stagnation Memupuk Pertumbuhan dalam Masa Henti
Last Updated : Jun 12, 2025  |  Created by : Administrator  |  568 views

Oleh Krisna Yogi Pramono*)

John Bunyan, seorang pengkhotbah Inggris abad ke-17, mengalami stagnasi pelayanan yang nyata ketika dipenjara selama 12 tahun karena mengadakan pertemuan ibadah dan berkhotbah tanpa izin gereja resmi. Namun, di balik tembok penjara, periode yang tampak tidak produktif ini justru melahirkan The Pilgrim&'39;s Progress, sebuah karya rohani yang sangat berpengaruh hingga kini.

Kita pun tak jarang menghadapi masa-masa pelayanan yang terasa mandek, seperti penurunan jumlah Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), keengganan alumni dan mahasiswa untuk menjadi pengurus, kesulitan rekrutmen staf, keuangan yang defisit, hingga tertutupnya akses pelayanan di kampus atau sekolah. Bagaimana seharusnya kita memandang masa henti semacam ini? Sikap seperti apa yang perlu kita kembangkan agar kita dapat "berbuah lebat pada waktunya," seperti yang dialami oleh Bunyan?

Perspektif Alkitabiah terhadap Stagnasi

Alkitab memang tidak secara eksplisit membahas konsep "stagnasi." Namun, melalui kisah para tokohnya, pengajaran-pengajaran yang disampaikan, serta refleksi teologis yang mendalam, Alkitab memberikan perspektif yang kaya tentang periode kehidupan yang terasa tidak produktif, kehilangan arah, dan mandek.

Salah satu ajaran utama Alkitab adalah bahwa stagnasi seringkali menjadi periode formatif yang Allah gunakan untuk membentuk kehidupan kita. Kisah Yusuf adalah contoh yang jelas. Setelah dikhianati dan dijual oleh saudara-saudaranya, Yusuf menjalani perjalanan hidup yang pahit: menjadi budak, difitnah, dan di penjara tanpa kejelasan kapan bebas. Melalui serangkaian peristiwa ini, Allah sedang mempersiapkan Yusuf untuk tujuan besar yang belum ia pahami. Pada waktu yang tepat, Tuhan mengangkatnya menjadi penguasa kedua di Mesir. Merenungkan perjalanan hidupnya, Yusuf menyadari bahwa penderitaannya diatur oleh Allah "untuk memelihara keluarganya dan banyak bangsa" (Kejadian 45:5).

Pengembaraan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun juga memberikan pelajaran serupa. Meskipun pengembaraan itu merupakan konsekuensi dari ketidaktaatan mereka, periode tersebut juga menjadi proses pemurnian yang esensial. Tujuannya adalah agar generasi yang baru dapat belajar untuk berpaut kepada Allah dengan segenap hati (Ulangan 8:2). Apa yang tampak seperti "berputar-putar tanpa tujuan" sebenarnya adalah kurikulum ilahi yang dirancang untuk membentuk kembali identitas mereka sebagai umat Allah yang setia.

Alkitab juga menyingkapkan bahwa masa henti seringkali menjadi arena benturan antara ketidaksabaran manusia dan waktu ilahi yang sempurna. Contohnya adalah Daud, yang diurapi menjadi raja bertahun-tahun sebelum ia benar-benar menduduki takhta. Selama periode itu, ia harus menjalani masa pengabdian, menghadapi berbagai bahaya, dan hidup dalam ketidakpastian (1 Samuel 16-2 Samuel 2). Mazmur 13 merekam pergumulannya, "Berapa lama lagi, ya Tuhan? Apakah Engkau akan melupakan aku selamanya?" Namun, di tengah keraguan, ia juga menyatakan kepercayaannya, "Tetapi aku percaya pada kasih setia-Mu yang abadi" (ayat 5). Pengalaman Daud menunjukkan bahwa dalam masa penantian, keraguan dan harapan dapat hadir bersamaan, iman diuji, dan kesabaran dibentuk secara mendalam.

Lebih jauh lagi, Kitab Suci menantang asumsi umum bahwa produktivitas adalah satu-satunya ukuran keberhasilan dalam hidup dan pelayanan. Pengkhotbah 3:1-8 dengan bijak menyatakan bahwa ada "waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang." Dalam kerangka waktu ilahi ini, stagnasi pun memiliki tempat dan tujuannya. Masa-masa yang tampak tidak produktif ini justru dapat menjadi "waktu untuk beristirahat" atau "waktu untuk menyembuhkan"—sebuah kesempatan untuk melepaskan kendali dan menerima ritme pemulihan yang ditetapkan oleh Allah.

Dalam Perjanjian Baru, perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9) menggambarkan kesabaran Allah dalam menghadapi periode tanpa hasil yang terlihat. Pemilik kebun memberikan waktu tambahan untuk merawat pohon tersebut, sebuah representasi kasih karunia Allah yang besar dalam proses pertumbuhan, bahkan ketika buah belum nampak.

Pada akhirnya, perspektif alkitabiah tentang stagnasi mencapai puncaknya dalam peristiwa kebangkitan Kristus. Narasi kebangkitan muncul dari sebuah momen henti yang mendalam: hari Sabat yang sunyi di antara kematian dan kebangkitan Kristus. Bagi para murid, hari itu adalah simbol harapan yang hancur. Namun, setelahnya, mereka mengalami puncak kemenangan. Demikian pula, orang percaya dipanggil untuk melihat stagnasi melalui janji bahwa Allah "membuat segala sesuatu indah pada waktunya" (Pengkhotbah 3:11). Masa keheningan bukanlah garis akhir, melainkan titik-titik penting dalam kisah pembaharuan yang terus berlangsung.

Latihan Rohani dalam Masa Henti

Lalu, tindakan konkret apa yang dapat kita lakukan ketika kita merasa "tidak ada lagi yang bisa dilakukan"?

Setidaknya ada lima tindakan penting yang dapat kita ambil. Pertama, perdalam relasi dengan TUHAN. Alokasikan waktu yang lebih banyak untuk berdoa, merenungkan firman Tuhan, dan menikmati keheningan di hadapan-Nya. Mintalah kepada Tuhan untuk menunjukkan pelajaran berharga yang ingin Dia ajarkan selama masa ini. Masa stagnan bukanlah waktu untuk menunggu tanpa tujuan, melainkan sebuah "laboratorium rohani"—tempat di mana Tuhan menyempurnakan karakter kita dalam ketenangan.

Kedua, fokuslah pada pembentukan karakter daripada hasil. Seringkali, Tuhan menggunakan masa "berhenti" untuk menguji dan mengasah kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati kita. Bagaikan emas yang dimurnikan dalam api, periode ini mematangkan kualitas-kualitas rohani yang akan menjadi fondasi yang kokoh bagi pelayanan di masa depan. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah kita sudah belajar untuk bersukacita dalam kesulitan, ataukah kita masih cenderung mengandalkan kekuatan diri sendiri?

Ketiga, tetaplah setia dalam setiap tanggung jawab yang dipercayakan. Yesus mengingatkan dalam Lukas 16:10 bahwa "orang yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara besar." Tindakan-tindakan seperti membersihkan rumah persekutuan yang berantakan, mempersiapkan materi KTB dan khotbah dengan sungguh-sungguh, atau menjalin komunikasi yang baik dengan pengurus komponen—semua ini adalah langkah penting menuju tanggung jawab yang lebih besar dan bermakna. Jangan pernah meremehkan peran yang tampak "biasa," karena di mata Tuhan, kesetiaan dalam hal-hal kecil adalah wujud pelayanan yang sejati.

Keempat, lakukan evaluasi diri dan pelayanan secara mendalam. Amati dengan cermat: Adakah keterampilan yang perlu ditingkatkan? Relasi yang perlu dipulihkan? Sistem pengelolaan pelayanan yang perlu diperbaiki? Seperti seorang petani yang merawat tanahnya di musim kemarau, gunakan waktu ini untuk mengolah "lahan" diri dan pelayanan kita, sehingga ketika "hujan" berkat tiba, benih yang telah ditabur dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah yang melimpah.

Terakhir, bagikan pergumulan kita secara jujur dengan komunitas rohani. Kita tidak perlu berpura-pura kuat atau menyembunyikan kelemahan. Ketika kita berani mengatakan, "Saya sedang merasa bingung, tetapi saya percaya Tuhan tetap bekerja," kesaksian kejujuran ini akan memberikan kekuatan dan penghiburan bagi sesama yang mungkin sedang mengalami kesulitan serupa.

Pada akhirnya, masa stagnan adalah sebuah kesempatan yang berharga untuk bertumbuh secara holistik. Ini bukanlah sebuah kebuntuan, melainkan sebuah proses transformasi yang penting dalam perjalanan rohani kita.

Melewati Stagnasi, Menjadi Lebih Dewasa

Di dunia yang seringkali terobsesi dengan kecepatan dan pencapaian instan, keinginan untuk menghindari stagnasi adalah hal yang wajar. Namun, Alkitab memberikan perspektif yang berbeda, membingkai stagnasi sebagai periode yang krusial dalam proses pendewasaan rohani kita. Seperti yang Paulus tuliskan dalam Roma 5:3-5: "penderitaan menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan." Jadi, ketika kita merasa seolah-olah "terkubur," ingatlah bahwa benih pun harus ditanam terlebih dahulu sebelum dapat bertumbuh.

Perjalanan kita belum selesai; Tuhan sedang bekerja secara aktif di balik layar, memperkokoh fondasi kehidupan kita. Percayalah pada waktu yang telah Ia tetapkan, nantikan kehadiran-Nya dengan sabar, dan tetaplah setia dalam setiap hal kecil yang dipercayakan. Ketika musim berganti, kita akan muncul sebagai pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih siap untuk menerima hasil panen yang telah Dia rencanakan. Ingatlah bahwa tujuan utama-Nya bukanlah sekadar keberhasilan duniawi, melainkan kedewasaan rohani kita.

*) Penulis melayani Pelayanan Siswa di Perkantas Malang


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES