more"/> more">
Renungan E-Murid
Mimbar Jalanan, Sebuah Transformasi Saat Menuju Emaus.
Oleh Ekawaty Ranteliling, M.Th
Sahabat saya melontarkan gurauan tentang jalanan di Surabaya yang begitu lebar, berbeda dengan jalanan di kotanya yang cukup sempit. Lalu seorang kakak menanggapi bahwa jalanan adalah “mimbar” untuk penyebaran Injil, sehingga harus luas supaya Injil dapat diberitakan dengan leluasa. Gurauan tersebut sebenarnya mengandung arti yang lebih mendalam. Jalanan bukan sekadar penghubung dari satu titik ke titik yang lain. Tetapi, dapat menjadi salah satu ruang di mana Injil diberitakan dengan gamblang dan bekerja secara konkrit melalui percakapan demi percakapan, dan langkah-langkah yang ditempuh bersama orang lain, hingga menghadirkan transformasi hidup yang mendalam.
Lukas 24:13-35 mencatat kisah dua orang murid Tuhan Yesus, yakni Kleopas dan temannya. Mereka berjalan kaki menuju Emaus, sebuah tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Yerusalem. Perjalanan itu membawa mereka pada perbincangan mengenai hal-hal menggemparkan bagi mereka di seputar kematian Yesus, kekosongan kuburan, hingga kabar simpang-siur yang mungkin membingungkan bagi mereka. Sepanjang jarak tempuh kurang lebih 11 kilo meter itu pula, pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari gelisah mungkin dilontarkan berkali-kali. Ketakutan dan keraguan besar kemungkinan juga diutarakan.
Di momen inilah, Tuhan Yesus mendekati, ikut berjalan, dan mengajukan pertanyaan sederhana tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Menariknya, Tuhan Yesus tidak langsung membuka identitas-Nya atau berkhotbah panjang lebar. Ia ikut berjalan, mendengarkan, lalu menjelaskan segala sesuatu yang tertulis mengenai diri-Nya dalam Kitab Suci. Baru setelah itu, lewat tindakan sederhana memecah roti, mata mereka terbuka dan mereka mengenali siapa yang telah berjalan bersama mereka. Bahkan mereka menyadari kalau sebenarnya hati mereka berkobar-kobar saat Tuhan Yesus berbicara dan menerangkan Kitab Suci sepanjang perjalanan tadi.
Sesuatu yang penting terjadi di sini, yakni transformasi rohani, seringkali terjadi bukan hanya karena khotbah dari atas mimbar yang lantang, tetapi juga melalui pengajaran yang dilakukan di sepanjang “mimbar” perjalanan bersama. Dalam perjalanan ini, Tuhan Yesus tidak terburu-buru menyingkapkan diri-Nya. Ia memberi ruang bagi kedua murid itu untuk mengungkapkan kebingungan mereka apa adanya, mendengarkan mereka, sebelum akhirnya membukakan makna dari apa yang mereka alami. Tuhan Yesus mengambil peran sebagai teman seperjalanan bagi mereka. Peran ini kemudian menghasilkan transformasi bagi kehidupan kedua murid.
Menjadi teman seperjalanan, juga merupakan konsep yang diuraikan oleh David G. Benner dalam bukunya, The Sacred Companion. Baginya, kehidupan rohani adalah perjalanan yang harus ditempuh bersama orang lain karena kita adalah bagian dari tubuh Kristus. Senada dengan itu, Parker J. Palmer, seorang penulis dan pendidik, dalam bukunya A Hidden Wholeness, menggambarkan teman perjalanan rohani sebagai spiritual companioning. Menurutnya, ini adalah sebuah upaya untuk menghadirkan ruang aman di mana seseorang dapat mendengarkan jiwanya sendiri, menamai pertanyaan-pertanyaan terdalamnya, dan menemukan hidup yang otentik lewat perjumpaannya dengan Allah.
Bedanya gagasan ini dari pertemanan biasa adalah seorang companion hadir bukan untuk mengubah orang lain sesuai keinginannya sendiri, melainkan untuk menemani proses seseorang untuk mengenal dirinya, menamai pertanyaan terdalamnya, dan berjumpa dengan Allah. Meskipun, kedekatan semacam ini bisa bergeser menjadi ketergantungan yang tidak sehat, relasi yang timpang secara kuasa, atau ruang bagi penyalahgunaan kepercayaan rohani. Karena itu, menjadi teman seperjalanan memerlukan anugerah Tuhan dan kerendahan hati untuk terus memeriksa diri: apakah saya menemani, atau diam-diam mengendalikan? Apakah orang yang saya dampingi semakin bergantung pada Allah, atau semakin bergantung pada saya?
Dalam konteks pelayanan Perkantas, menjadi teman perjalanan kita lakukan melalui proses pemuridan. Kita memaknai bahwa pemuridan, bukan hanya membagikan pengetahuan, melainkan saling berbagi kehidupan satu dengan yang lain. Hal ini dapat dilakukan dalam momen hidup yang sangat biasa, misalnya berjalan bersama dari kampus menuju kos, masak bersama, hingga hal yang disengaja misalnya dengan mendaki gunung bersama, dll. Harapannya, bukan hanya anggota kelompok Kecil yang menemukan teman perjalanan, melainkan pemimpin juga menjadi pribadi yang bersedia ditemani oleh anggotanya dalam perjalanan iman yang dijalani bersama. Hal ini berarti, pemuridan adalah wadah untuk bersama berjumpa dengan Tuhan dalam perjalanan hidup yang konkrit, dengan segala pertanyaan dan pergumulannya. Karenanya, panggilan pemuridan adalah panggilan untuk berjumpa dan mengalami Allah dengan menjadi teman perjalanan bagi orang lain serta menemukan teman perjalanan bagi hidup kita pribadi.
Tuhan Yesus menyebut Kleopas dan temannya sebagai orang yang bodoh, yang hatinya begitu lamban untuk mengerti apa yang Kitab Suci ajarkan. Tuhan Yesus menegur dengan keras tetapi tidak meninggalkan mereka, melainkan memilih melanjutkan perjalanan bersama. Tak jarang, orang yang kita temani berjalan juga bisa lamban memahami kebenaran, atau sulit mengalami perubahan dalam hidupnya. Mungkin dia akan jatuh pada dosa yang sama berulang-ulang kali, melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang iman, tidak mudah menerima kebenaran, dll. Namun, bagaimana jika kita mengingatkan diri bahwa kita sendiri pun tidak selalu mudah memahami dan menerima kebenaran? Bagaimana jika perjalanan itu tidak hanya untuk mengubahkan orang lain, melainkan juga mengubahkan kita? Bagaimana jika kita memilih melanjutkan perjalanan ke “Emaus” – entah sebagai yang menemani atau sedang ditemani – sambil berharap bahwa kita akan bersama-sama berjumpa dan mengalami Allah?
Soli Deo Gloria.
(*. Penulis Melayani sebagai Staf Mahasiswa Perkantas Surabaya)