more"/> more">
Renungan E-Murid Everlasting Love: Sisi Lain dari Kasih Sayang
Last Updated : Feb 26, 2026  |  Created by : Administrator  |  473 views

Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? --Matius 18:33

 

Oleh Oktaviana Eirene Harianto, S.Pt

 

Bulan Februari selalu identik dengan bulan kasih sayang. Namun, jauh melampaui tradisi duniawi tentang bunga dan cokelat, kita sebagai orang percaya dipanggil untuk merenungkan hakikat kasih yang sesungguhnya, yaitu kasih Tuhan yang kekal atau everlasting love. Kasih Tuhan bukanlah kasih yang sekadar memberikan kenyamanan, melainkan kasih yang berkorban demi kebaikan dan keselamatan jiwa kita. Seringkali kita terjebak pada definisi kasih yang dangkal – kasih yang hanya berisi kata-kata manis dan menghindari konflik – padahal kasih yang sejati adalah kasih yang berani menjaga, memulihkan, dan merendahkan diri di hadapan kebenaran firman Tuhan.

 

Kasih kekal ini dimulai dari sebuah kerendahan hati untuk menyambut firman Tuhan dalam kehidupan kita, sama seperti sikap seorang anak kecil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 18:1-5. Kita memahami bahwa firman Tuhan adalah kebenaran yang menguduskan sebagaimana tertulis dalam Yohanes 17:17. Oleh karena itu, everlasting love berarti setiap pribadi bersedia memberi diri untuk dibenarkan oleh firman-Nya. Ketika kita menyambut teguran atau kebenaran firman dengan hati yang rendah, kita sebenarnya sedang bertumbuh menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Kerendahan hati inilah yang menjadi fondasi utama bagi kita untuk saling menjaga dan menguduskan satu sama lain melalui kebenaran.

 

Dalam praktiknya, kasih kekal itu terus mengingatkan sebagai wujud kepedulian kita terhadap kekudusan sesama. Berdsarkan Matius 18:15-20, mengingatkan bukanlah upaya untuk merendahkan atau menghakimi, melainkan sebuah tindakan kasih yang menjaga martabat ssaudara kita dengan melakukannya secara empat ata terlebih dahulu. Saling mengingatkan berarti kita tidak membiarkan orang lain terhilang dalam kesalahannya, melainkan merangkul mereka kembali ke dalam persekutuan yang sehat. Dengan keberanian yang dilandasi kasih, kita memastikan bahwa komunitas kita tetap berjalan di jalur yang benar dan kudus di hadapan Tuhan.

 

Puncaknya, everlasting love adalah tentang saling mengampuni sperti yan dijelaskan dalam Matius 18:21-35. Sebagai pribadi yang telah lebih dulu menerima kasih kekal dan anugerah pengampunan dosa yang tak terhingga dari Tuhan, kita dipanggil untuk membagikan kasih yang sama. Kitas saling mengampuni bukan karena mengaharapkan balasan atau ampunan dari manusia, melainkan sebagai wujud nyata dari pribadi yang ditebus oleh Sang raja. Dalam kasih kekal, kita tidak lagi menghitung kesalahan, melainkan memberikan pengampunan dengan sukarela demi terciptanya pemulihan dan kesatuan sebagai tubuh Kristus.

 

Penerapan kasih yang berani menegur sekaligus berani mengampuni ini memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pertum buhan rohani kita secara pribadi maupun komunitas. Bagi pribadi, kasih ini melatih kita memiliki integritas agar tidak menjadi pengecut yang menghindari konflik demi kenyamanan semu, melainkan menghadapi kebenaran dengan jujur namun tetap penuh belas kasihan. Bagi komunitas, kasih kekal berfungsi menjaga keseimbangan; disiplin menjaga kita tetap kudus, sementara pengampunan menjadi perekat yang menjaga kita tetap bersatu. Tanpa ketegasan untuk saling menjaga, komunitas akan kehilangan arah, namun tanpa pengampunan, komunitas akan hancur oleh luka.

 

Kisah yang sangat indah mengenai penerapan kasih ini dapat kita lihat dalam cerita Alkitab pada figus Nabi Natan ketika ia mengur raja Daud. Natan tidak datang dengan penghakiman yang kasar, melainkan dengan hikmat dan kasih melalui sebuah perumpamaan sehingga Daud menyadari kesalahannya. Tentu saja, Natan juga tidak berusaha “menutup-nutupi” dosa Daud, seakan-akan itu adalah perbuatan sepele. Justru, Natan menunjukkan bagaimana dosa tersebut telah merusak Daud dan orang lain.

 

Dalam hal ini, Natan melakukan apa yang disebut oleh penulis buku Menjadi Sahabat Injil, Natanael Thamrin, sebagai “sahabat akuntabilitas”. Pada dasarnya sahabat akuntabilitas adalah orang yang kepadanya kita memberi pertanggungjawaban atas hidup kita. Natan mengasihi Daud dengan cara tidak membiarkannya larut dalam dosa yang merusak. Butuh keberanian untuk memberi teguran, apalagi dalam konteks ini, Natan sedang menegur seorang raja.

 

Di sisi lain, Daud pun menunjukkan kerendahan hati seorang “anak kecil” dengan mengakui dosanya di hadapan Tuhan. Inilah esensi dari kasih kekal: ada keberanian untuk meluruskan demi keselamatan jiwa dan ada kerendahan hati untuk menerima teguran tersebut demi pemulihan hidup yang lebih baik. Teladan ini juga dikatakan oleh Paulus dalam suratnya ke jemaat Galatia, yaitu jika seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, “maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan” (Gal. 6:1).

 

Oleh karena itu, mari kita merenungkan sejenak dalam hati masing-masing: Siapakah di antara kita yang benar-benar rindu masuk ke dalam Kerajaan Sorga? Siapakah yang mau berkomitmen untuk hidup saling mengingatkan dalam kebenaran, saling mengampuni, dan menundukkan ego dalam kerendahan hati di hadapan firman Tuhan? Mari kita wujudkan kasih kekal itu mulai hari ini dengan saling mengasihi, bukan karena kita merasa lebih suci, melainkan karena kita telah menerima pengampunan dari Bapa kita. Jadilah pribadi yang rela ditegur seperti seorang anak kecil yang menerima didikan Firman-Nya.(*Penulis melayani pelayanan siswa di Kediri)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES