more"/> more">
Oleh Yusuf Deswanto, M.Div
“Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kisah Para Rasul 17:11).
Pernahkah Anda membagikan kutipan ayat Alkitab di pagi hari karena tertarik gambarnya yang menarik tanpa memperhatikan konteks ayat tersebut secara utuh? Saya pernah, bahkan sering membagikan kutipan ayat Alkitab dengan gambar yang menarik melalui aplikasi Alkitab di ponsel saya. Motivasi saya adalah membagikan firman Tuhan, namun seringkali yang menjadi pertimbangan yang lebih penting adalah tampilan visual daripada teks dan konteksnya. Di era scrolling, jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran. Kita menekan “share” tanpa tahu apa yang tertulis sebelum dan sesudah ayat itu, atau apa sebenarnya yang sedang dikatakan penulis Kitab Suci.
Pada 1517, Martin Luther menulis 95 Tesis dalam bahasa Latin untuk sebuah perdebatan akademik. Tulisan itu diterjemahkan, dicetak, dan menyebar ke berbagai kota dalam waktu singkat. Pada 1522, Luther menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Jerman sehari-hari, sehingga jemaat biasa dapat membaca sendiri apa yang Allah katakan. Hubungan umat Tuhan dengan Alkitab sebagai firman Tuhan akhirnya berubah; Alkitab dapat disebarluaskan, dibaca dengan bebas, dipelajari dan dianalisa, dan juga dibunakan untuk menegur pembacanya secara reflektif.
Hari ini kita berada di posisi yang menakjubkan. Ada banyak terjemahan, aplikasi, rekaman audio, bahkan rencana baca harian yang masuk ke ponsel setiap pagi. Namun makin mudah Firman diakses, makin sering kita menerimanya dalam potongan kecil. Ayat dicabut dari konteksnya. Pengkhotbah – content creator membuat kita lekas setuju bahkan sebelum membuka Alkitab. Algoritma menyajikan apa yang membuat kita nyaman atau marah, dan tidak ada yang dirancang untuk membuat kita bertobat. Kita merasa sudah belajar padahal baru mengonsumsi, seakan seratus potongan renungan sama dengan satu kali bergumul panjang dengan satu perikop. Media sosial tidak jahat; banyak orang menemukan komunitas dan dorongan iman di sana. Tetapi kita bisa sibuk dengan hal rohani sepanjang hari tanpa pernah benar-benar diam di hadapan firman Allah.
Dalam perjalanan pelayanannya, Paulus tiba di Berea setelah diusir dari Tesalonika. Lukas mencatat bahwa jemaat di sana “lebih baik hatinya”, dan alasannya ada dua yang berjalan bersama. Pertama, mereka menerima firman dengan segala kerelaan hati. Mereka haus, tidak sinis, dan tidak menolak setiap kabar baru. Kedua, mereka menyelidiki Kitab Suci untuk memastikan apakah yang diberitakan itu benar. Yang berbicara kepada mereka adalah seorang rasul, namun mereka tetap memeriksa. Mereka bahkan melakukannya setiap hari, bukan sekali saat sedang bersemangat. Lukas tidak menyebut mereka lebih cerdas atau lebih saleh; ia menyebut hati mereka lebih baik. Kerajinan membaca ternyata persoalan hati sebelum menjadi persoalan metode.
Sikap Berea terasa dekat bagi kita yang terbiasa berpikir kritis di ruang kuliah atau tempat kerja. Daya kritis tidak perlu ditinggalkan di pintu gereja. Firman justru mengundangnya, asalkan arahnya benar: kita memeriksa segala sesuatu dengan Kitab Suci, bukan memeriksa Kitab Suci dengan selera kita sendiri. Ada dua godaan yang perlu dihindari. Yang pertama menelan segalanya karena yang berbicara tampak meyakinkan. Yang kedua mencurigai segalanya sampai kehilangan kerinduan. Orang Berea berdiri di antara keduanya, yaitu terbuka dan teliti sekaligus.
Frasa ecclesia reformata semper reformanda est, “gereja yang telah direformasi harus terus-menerus direformasi”, sering dikutip pada bulan Oktober. Ungkapan ini berasal dari tradisi Reformed abad ke-17, bukan dari mulut Luther sendiri. Maknanya bukan seruan agar gereja selalu tampil baru atau mengikuti tren. Pusatnya bukan kebaruan, melainkan Alkitab sebagai firman Allah. Gereja terus direformasi karena terus dibentuk ulang oleh Kitab Suci, termasuk ketika Kitab Suci menegur kita. Karena itu, reformasi di era scrolling tidak dimulai dengan strategi konten yang lebih canggih, melainkan dari cara kita membuka, membaca, mempelajari dan menanggapi Firman.
Tidak ada yang perlu dihapus dari ponsel kita. Tetapi beberapa kebiasaan kecil layak dicoba. Bacalah satu pasal utuh sebelum membagikan satu ayat; kalau maknanya bergeser setelah dibaca bersama konteksnya, kita baru saja belajar sesuatu. Periksa sebelum meneruskan: siapa yang mengatakan ini, dan apa yang dipotong? Bergumullah bersama dalam kelompok kecil atau persekutuan, sebab Firman dibaca lebih jujur ketika ada yang boleh bertanya, “Kamu yakin itu maksudnya?” Disiplin yang perlu kita kembangkan adalah mengambil jeda; tutuplah media sosial sebelum saat teduh agar pikiran punya ruang untuk hening. Langkah-langkah ini tampak biasa, dan mungkin itulah intinya. Reformasi berjalan karena orang-orang biasa mau kembali kepada Firman, lagi dan lagi.
Kapan terakhir kali kita membaca satu perikop secara utuh, dan apa yang Firman katakan kepada kita yang sebelumnya tidak kita cari? Dari mana kita paling sering menerima ajaran rohani: dari Kitab Suci, dari figur tertentu, atau dari linimasa? Apa yang sudah kita periksa kembali dengan Alkitab? Dengan siapa kita bisa mulai membaca Firman bersama minggu ini? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini perlu sering kita tanyakan kepada diri sendiri untuk “mereformasi” sikap hati dan kebiasaan kita terhadap Alkitab. Memperingati Hari Reformasi Gereja 31 Oktober, kecintaan dan kehausan kita kepada teks-teks Alkitab perlu terus diubahkan. Maka “...berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkesan kepada Allah dan yang sempurna,” Roma 12:2.
(* Penulis Melayani Pelayanan Alumni di Perkantas Jember)